Hai Business Owner, HC Practitioner, dan Professional Leader!
Beberapa waktu lalu, kami mendampingi salah satu in house klien dan ada satu hal menarik yang kami temukan. Ternyata, kemampuan bertumbuh dalam tim bukan cuma soal skill, tapi soal koneksi. Baik ke dalam diri sendiri maupun ke sesama.
Banyak dari kita mungkin sudah familier dengan program team building atau self development. Tapi yang jarang dibahas adalah: apa yang sebenarnya terjadi dalam diri peserta saat mereka ‘dipaksa’ untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan kemudian bergerak bersama?
Quarter Life Crisis
Banyak organisasi saat ini memiliki SDM yang luar biasa secara teknis. Namun di balik performa dan target yang dicapai, ada satu hal yang kadang terlewat, yaitu kejelasan arah internal dari individu itu sendiri.
Bayangkan seseorang yang sedang menjalani fase quarter-life crisis diusia 20–30-an yang katanya produktif, tapi justru sering diwarnai kegamangan: “Aku ini siapa?”, “Aku cocoknya ngapain?”, “Kerja ini buat siapa, sih?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bisa terlihat personal. Tapi buat kita yang bergerak di bidang SDM, justru ini merupakan suatu sinyal yang bisa kita tangkap. Ketika seseorang nggak kenal sama dirinya sendiri, maka ia juga sebeneranya ngga sepenuhnya bisa berkontribusi, dan bertumbuh dalam sebuah tim bukan? Nah, identitas bisa bantu kita untuk titik awal di sebuah perjalanan.
Kadang kita terlalu fokus sama pengembangan kompetensi, dan malah lupa buat membangun kesadaran identitas. Padahal, kita juga perlu loh untuk memahami diri sendiri, sesimple siapa saya, apa value yang mau saya bawa dan bagaimana saya melihan peran di diri saya. Itu adalah sebuah fondasi yang bisa menentukan bagaimana seseorang bekerja, berelasi bahkan dalam mengambil keputusan.
Identitas ngga cuma sekedar “tim marketing”, “tim produksi”. Tapi, identisan bisa gabungan dari sebuah pengalaman, value, keyakinan dan juga aspirasi dari seseorang. Ketika seseorang merasa connect dengan identitasnya, maka ia akan lebih siap dalam menghadapi tekanan, lebih sadar saat membuat keputusan dan lebih konsisten dalam kontribusinya.
Bagi organisasi, ini merupakan salah sat hal yang tidak bisa terlewat. Jika kita ingin membangun tim yang kuat, kita harus mulai dari individu yang berakar.
Apakah Cukup Hanya Mengenal Diri Saja?
Tidak, kita ini makhluk sosial. Dan bertumbuh bisa jadi hal yang bermakna jika kita tidak sendiri, tapi ada dalam suatu connection.
Banyak excercise yang kita lakukan di outdoor. Entah mereka menyelesaikan teka-teki, kolaborasi strategi dengan tim lain, atau mengelola tools yang diberikan sebaik mungkin. Hal ini telah menciptakan suatu memori tentang apa arti teamwork, saling mengenal dan mengelola perbedaan. Yaa.. karena actually mereka ada 160 orang dan ngga semua saling mengenal hehe.
Tapi uniknya, justru dalam kondisi yang tidak nyaman, berpacu dengan waktu, tools terbatas dan adanya target, mereka jadi lebih terbuka dan lebih komunikatif. So, kemampuan untuk bekerja sama secara efektif bukan lahir dari teori atau sekedar mendengarkan, tapi justru dari pengalaman yang membuat mereka menjadi membutuhan satu sama lain. Dan ini tujuan dari “Grow to Gather Day’s”
Di pengalaman klien kami ini, salah satu tantangan yang diberikan adalah mengelola budget yang terbatas untuk menyelesaikan tugas tim, bukan hanya permainan. Tapi itu adalah cerminan dari realita dunia kerja, bahwa setiap keputusan itu berdampak, tidak semua bisa sesuai dengan apa yang kita mau, tidak semua bisa kita kontrol sendiri dan bahwa keberhasilan itu bukan tentang satu orang yang papling pintar, tetapi tim yang bisa beradaptasi dan menyatukan kekuatan.
Menariknya, ada peserta yang dapet insight seperti ini
Kita bisa menyelesaikan tugas ini bukan karena tidak ada konflik tim, tapi kita belajar untuk manage konflik, dengan tau posisi mana yang harus disanggah dan mana yang perlu kita dengar lalu dilakukan.
Nggak hanya itu, banyak banget hal yang ditemukan di excercise ini seperti, manajemen emosi, tanggung jawab terhadap peran, kemampuan berdiskusi itu juga kunci yang nggak kalah penting dari skill teknis.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sebagai Business Owner, HC Practitioner dan Professional LeaderSDM, ini beberapa refleksi yang bisa jadi take away
-
Jangan remehkan pentingnya pemahaman diri.
Ajak anggota tim untuk mengenal value, motivasi, dan arah hidup mereka. Ini bukan hal yang ‘ngawang’, tapi investasi jangka panjang terhadap loyalitas dan daya tahan mental. -
Ciptakan ruang yang mendorong pengalaman.
Pengembangan SDM tidak selalu butuh kelas dan slide presentasi. Terkadang, satu hari dengan tantangan riil dan tim yang harus bekerja sama akan lebih membekas dibanding seminar seharian. -
Lihat ketidaknyamanan sebagai bahan bakar pertumbuhan.
Banyak perusahaan terlalu protektif hingga lupa bahwa tantanganlah yang membentuk karakter. Bukan dengan membiarkan mereka jatuh, tapi dengan memberi tempat aman untuk mencoba. -
Ukur keberhasilan bukan hanya dari hasil akhir, tapi juga dari proses bertumbuh.
Apakah tim Anda lebih mengenal satu sama lain? Apakah mereka mulai bisa saling support tanpa saling menyalahkan? Apakah mereka belajar mengelola ego dan mendengarkan?
Grow to Gather
Grow to Gather bukan sekadar nama acara. Ia adalah filosofi bahwa pertumbuhan terbaik terjadi saat kita merasa “connected” dengan diri sendiri, dengan tim, dan dengan tujuan bersama.
Kalau Anda sedang menyusun program pengembangan tim, atau merasa tim Anda “baik-baik saja tapi terasa hambar”, mungkin ini saatnya untuk refleksi. Apakah ruang untuk mengenal diri dan membangun koneksi sudah cukup tersedia? Feel free untuk terkoneksi dengan kami atau sekedar bertukar cerita. Karena kadang, satu obrolan kecil bisa jadi titik awal perubahan besar. Sampai jumpa di artikel selanjutnya!




thanks for info.