Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader, bertemu lagi dengan Delia! Menjelang Hari Sumpah Pemuda begini, topik anak muda terutama Gen Z di dunia kerja biasanya makin ramai dibicarakan. Dan Anda pasti pernah mendengar keluhan ini:Â
“Gen Z cepat sekali resign.”
“Maunya fleksibel terus.”
“Cara kerjanya kok beda ya?”
Hari ini, saya mau mengajak Anda berbincang sedikit. Mari kita tanyakan satu hal bersama-sama:Â
Kenapa anak muda zaman sekarang begitu? Atau justru, kenapa kantor ini begitu?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapapun. Tujuannya supaya Anda punya pegangan praktis untuk membuat tim, terutama talenta muda, betah dan bertumbuh bersama Anda. Dan percayalah, perubahannya sering dimulai dari hal-hal yang sederhana loh..
Stereotip Generasi Itu Lebih Sering Mitos
Pertama, mari kita luruskan satu hal. Label “Gen Z susah diatur” ternyata lebih banyak mitos daripada fakta. Riset McKinsey tentang mitos berbasis usia dalam preferensi pekerja menemukan bahwa alasan utama orang ingin keluar dari pekerjaan sama di semua kelompok usia: kompensasi yang kurang, pengembangan karier yang minim, dan atasan yang tidak peduli.
Artinya, bukan hanya Gen Z yang merasakannya. Gen X, milenial, dan generasi lainnya pun ingin dihargai dan bertumbuh. Jadi ketika seorang Gen Z pamit, bisa jadi yang sedang berbicara bukanlah “sifat generasinya”, melainkan kebutuhan yang belum terjawab di tempat kerjanya.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu menghafal “buku panduan” tiap generasi. Cukup kenali orangnya satu per satu. Dengan begitu, Anda lebih mudah memahami apa yang mereka butuhkan, biaya merekrut ulang bisa ditekan, dan peluang mereka bertahan jadi jauh lebih besar.
Yang Bikin Gen Z Betah (atau Resign)
Lalu, apa sebenarnya yang mereka cari? Sebelumnya, kami pernah membahas juga tentang hal yang dicari Gen Z di tempat kerja, untuk bertahan. Gen Z justru menilai fleksibilitas, pengembangan karier, pekerjaan yang bermakna, serta lingkungan yang aman dan suportif sebagai hal yang lebih penting daripada kompensasi.
Coba bayangkan jika tim Anda memiliki semua itu. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi juga lebih berani mencoba, lebih terbuka menyampaikan ide, dan lebih bersemangat berkontribusi. Bagus untuk mereka, bagus juga untuk bisnis Anda.
Menariknya, hal ini sejalan dengan polling “green flag” Gen Z yang pernah kita bahas di Community Simple HR beberapa waktu lalu. Yang mereka anggap sebagai tanda tempat kerja yang sehat ternyata sederhana dan bisa Anda mulai dari kebiasaan sehari-hari, tanpa harus menunggu anggaran besar atau program yang rumit.
Sebelum memimpin orang lain, kenali arah Anda dulu. Pemimpin yang jernih soal tujuannya lebih mudah menemani timnya menemukan arah. Yuk, coba My Career Compass by Points of You Indonesia, sebuah pengalaman refleksi yang membantu Anda melihat lebih jelas arah karier dan langkah berikutnya.
Tiap Orang Punya Pemicu Semangat yang Berbeda
Sekarang kita masuk ke soal kepemimpinan. Di buku 3 Kunci Sukses Pengelolaan SDM, ada konsep Human Emotional Driver: setiap orang punya pendorong emosional yang berbeda. Ada yang bersemangat karena tantangan, ada yang karena apresiasi, ada yang karena kesempatan berkembang, ada yang karena rasa memiliki, dan ada yang karena rasa aman.
Coba lihat tim Anda. Mungkin ada yang butuh tantangan baru supaya merasa hidup, dan ada yang butuh rasa aman dulu supaya berani bicara. Jika Anda mengetahui driver mereka, satu kalimat apresiasi yang tepat bisa terasa jauh lebih berarti daripada perlakuan yang disamaratakan.
Kuncinya ada pada kebiasaan mendengar. Pemimpin yang meluangkan waktu untuk memahami apa yang menggerakkan anggota timnya akan lebih mudah membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah fondasi dari kinerja yang konsisten.
Nilai perusahaan yang indah di dinding memang bagus. Tetapi yang paling dirasakan tim adalah apa yang terjadi di rapat, di sesi 1-on-1, dan saat seseorang melakukan kesalahan. Apakah ide dari level junior didengar? Apakah kesalahan dijadikan bahan belajar, bukan bahan menyalahkan?
Ketika budaya benar-benar dijalankan lewat sistem dan kebiasaan, talenta terbaik Anda akan memilih bertahan karena mereka mau, bukan karena terpaksa. Dan itu jauh lebih kuat daripada slogan mana pun.
4 Langkah Praktis yang Bisa Anda Mulai Minggu Ini
Supaya tidak berhenti di wacana, berikut empat langkah yang bisa langsung Anda coba.
- Kenali driver motivasi tiap anggota tim lewat 1-on-1. Sisihkan waktu khusus untuk bertanya apa yang membuat mereka bersemangat, bukan hanya membahas progres pekerjaan. Hasilnya, apresiasi dan tugas yang Anda berikan jadi benar-benar mengena.
- Ganti instruksi dengan pertanyaan. Daripada berkata “Kerjakan dengan cara ini,” coba tanyakan “Menurutmu, cara terbaiknya bagaimana?” Pendekatan coaching ini membuat tim merasa dipercaya, dan Anda bisa mendapat ide yang belum pernah terpikirkan.
- Sediakan ruang berpendapat yang terstruktur. Misalnya forum ide bulanan, tempat siapa pun dari level mana pun boleh mengusulkan perbaikan. Dengan begitu, suara yang biasanya diam punya panggung yang aman untuk didengar.
- Tunjukkan jalur karir dan pengembangan, bukan cuma target kerja. Ceritakan ke mana peran mereka bisa tumbuh. Saat orang bisa melihat masa depannya di tempat Anda, mereka punya alasan kuat untuk bertumbuh bersama.
Tidak perlu dilakukan sekaligus. Mulailah dari satu langkah yang paling terasa relevan untuk tim Anda, lalu lihat perubahannya.
So, What’s Next?
Jadi, Gen Z sebenarnya bukan susah diatur. Mereka ingin dilihat, didengar, dan diberi arah, sama seperti kita semua. Dan kabar baiknya, semua itu bisa dimulai dari satu percakapan yang tulus.
Jika Anda ingin memulai 1-on-1 yang lebih meaningfull, buku 101 Coaching Questions bisa menjadi bekal Anda. Isinya kumpulan pertanyaan yang membantu menggali motivasi, harapan, dan potensi setiap anggota tim.
Mulai dari diri sendiri, ya. Sebelum menemani tim menemukan arah, luangkan waktu untuk diri Anda lewat My Career Compass by Points of You Indonesia. Pemimpin yang jernih arahnya akan lebih mudah menginspirasi orang di sekitarnya. Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut terkait tools My Career Compass atau ada hal yang masih mengganjal di Anda, kita bisa terkoneksi disini yaa!
Sampai jumpa di artikel berikutnya!


