May 29, 2026 |  Minutes

Ketika Jabatan Tidak Lagi Sejalan dengan Kemampuan Berpikir

0  comments

Pernah nggak Bapak-Ibu merasakan seseorang yang sangat bagus di posisinya, kemudian dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi entah itu supervisor atau manajer?
Halo, Business Owner,HC Practitioner dan Profesional Leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant. Kali ini saya mau ngajak Bapak-Ibu semua untuk melihat dari sisi sebuah promosi jabatan di perusahaan. Mungkin dulu orang ini performanya sangat menonjol, targetnya oke, rapi, teknisnya bagus, dan bisa diandalkan. Karena saat itu Bapak-Ibu memang membutuhkan posisi tersebut, akhirnya orang ini dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi.  Dengan kinerjanya, Bapak-Ibu percaya bahwa orang ini bisa melakukan pekerjaan yang lebih besar. Akhirnya kita angkatlah menjadi seorang supervisor atau manajer. Tapi setelah berjalan cukup lama, tantangan di level itu mulai bermunculan. Entah dari sisi komunikasi, bagaimana mengelola tim, mengambil keputusan, sampai menganalisis data yang lebih luas lagi. Nah, itu jadi kepusingan baru bagi kita sebagai leader atau business owner. Dulu kok bagus ya, tapi setelah dinaikkan justru banyak kejadian yang membuat dia burnout dan cukup banyak kesalahan mulai terjadi.  Nah tenang aja, sebenarnya kejadian seperti itu bukan hanya terjadi di tempat Bapak-Ibu. Hal ini juga terjadi di banyak perusahaan lainnya. Kadang kita melihat seseorang punya performa yang bagus dan kinerja yang oke, tapi saat dipromosikan justru performanya menurun. Secara logika memang kadang terasa nggak masuk akal. Padahal sebelumnya bagus, tapi saat memimpin tim dan mendapatkan tanggung jawab yang lebih tinggi, ternyata justru tidak kuat menjalaninya.  Balik lagi ke area 3 Kunci Sukses yaitu Mindset, System, dan Leadership. Kalau kita lihat dari tiga area itu saat mengelola SDM, maka kita akan masuk di area leadership. Yang perlu diperhatikan adalah, apakah sebelum dinaikkan ke posisi baru yang lebih tinggi, kita sebagai business owner atau professional leader sudah sempat menanyakan kesiapan orang tersebut? Atau bahkan melakukan sesi one-on-one terlebih dahulu dengan yang bersangkutan? Karena penting untuk memastikan apakah dia memang siap naik ke level tersebut atau tidak. 

Pentingnya One-on-One Sebelum Promosi

Hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan sesi one-on-one kepada yang bersangkutan. Tujuannya untuk memastikan kesiapan, apa yang dia rasakan, support apa yang dia butuhkan, sampai training apa yang perlu dipersiapkan ketika nanti naik jabatan. Nah, sesi one-on-one ini membantu kita melihat posisi seseorang sebenarnya ada di area mana. Kalau saya singkatnya ada empat kuadran. Ada yang tidak mampu dan tidak mau, ada yang mampu tapi tidak mau, ada yang mau tapi belum mampu, dan ada yang mau sekaligus mampu. Idealnya, saat kita melakukan promosi, orang tersebut ada di kuadran paling kanan atas, yaitu dia mau dan dia mampu. Lalu bagaimana cara kita mengetahui dia ada di area mana? Ya tadi, melalui sesi one-on-one terlebih dahulu. Kita tanya kesiapannya, kemauannya, dan bagaimana pandangannya terhadap posisi baru tersebut. Kalau saya pribadi, saya akan lebih memilih orang yang mau dulu meskipun kemampuannya masih perlu dikembangkan. Karena kalau orang itu sudah mau, biasanya dia juga mau belajar. Dikasih tantangan, dia mau mencoba menyelesaikan. Dikasih tantangan lagi, dia mau mencoba menghadapinya. Tetapi kalau dia dipaksa naik jabatan hanya karena perusahaan sedang membutuhkan orang, itu sering kali jadi masalah besar. Kadang perusahaan langsung menunjuk seseorang tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Nanti kamu naik ya ke posisi yang lebih tinggi.”
Padahal belum tentu orang tersebut memang mau. Nah, disitulah biasanya muncul problem yang cukup besar. Karena meskipun orang itu punya kemampuan, kalau kemauannya tidak ada, energinya juga tidak akan dibawa untuk berkembang di level berikutnya. Akhirnya apa pun yang diberikan akan cenderung ditolak. Hal seperti itu cukup sering saya temui saat mendampingi coaching di berbagai perusahaan. Ketika ada leader atau tim yang ingin naik satu tingkat lebih tinggi, ternyata masalah utamanya bukan hanya soal skill, tapi juga kesiapan mental dan kemauan dari orang tersebut.

Promosi Jabatan Bukan Hanya Soal Performa

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan saat promosi jabatan adalah mempersiapkan orang yang bersangkutan. Persiapannya dari sisi apa? Dari sisi skill-nya. Tadi saya sempat sampaikan bahwa kadang seseorang memang mau, tetapi kemampuannya masih kurang. Nah, yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan skill tersebut. Misalnya strategic thinking-nya belum kuat, maka kita bisa memberikan training terkait strategic thinking. Bisa melalui in-house training ataupun kelas publik di luar perusahaan. Dengan begitu, kompetensi yang bersangkutan bisa berkembang sesuai tuntutan jabatan barunya. Di dalam satu pembahasan, ada penelitian dari Gallup yang membahas bahwa banyak perusahaan gagal memilih leader yang tepat untuk dipromosikan. Penyebabnya karena proses promosi dilakukan berdasarkan performa sebelumnya. Kita melihat dia bagus, teknikalnya oke, targetnya tercapai, tetapi tidak melihat sisi soft skill dan leadership-nya. Padahal area tersebut sangat penting ketika seseorang naik level jabatan. Karena sebenarnya ketika seseorang naik level, tantangannya juga berubah. Dia bukan hanya mengerjakan pekerjaannya sendiri, tetapi mulai mengelola departemen, tim, dan permasalahan yang lebih luas. Jadi yang dia kelola bukan lagi hanya dirinya sendiri, tetapi tanggung jawab yang jauh lebih besar. Di sinilah kemampuan adaptasi dan strategic thinking menjadi penting. Bahkan dalam pembahasan dari World Economic Forum disebutkan bahwa kemampuan leadership, adaptasi, dan critical thinking menjadi salah satu skill penting di masa depan. Apakah hanya tiga itu? Tentu tidak. Masih banyak skill lain yang penting dimiliki seorang leader. Tetapi tiga skill tersebut menjadi area yang semakin dibutuhkan ketika seseorang naik ke posisi yang lebih tinggi. Dari sini kita mulai mendapat gambaran bahwa promosi jabatan bukan sekadar “asal comot orang”. Bukan hanya karena perusahaan sedang membutuhkan, lalu langsung menunjuk seseorang untuk naik jabatan. Tetapi kita juga perlu melihat lebih luas apakah orang tersebut benar-benar siap atau belum.

Assessment Membantu Promosi Lebih Objektif

Kita perlu melihat bagaimana cara dia berkomunikasi dengan rekan kerja, apakah dia mampu melihat sesuatu secara lebih luas, apakah dia tahu prioritas pekerjaan, dan bagaimana kemampuan dia mengembangkan orang lain. Karena sebenarnya ada banyak hal yang perlu diperhatikan ketika mengangkat seseorang dari satu level ke level yang lain. Dan semuanya juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing organisasi. Karena kebutuhan satu organisasi dengan organisasi lainnya pasti berbeda. Meskipun jabatan yang dibutuhkan sama, misalnya manager accounting, manager production, atau manager purchasing, tetap saja masing-masing perusahaan bisa memiliki kebutuhan kompetensi yang berbeda. Supaya hasilnya lebih detail dan objektif, perusahaan bisa mulai menggunakan assessment atau talent mapping. Dengan assessment, kita bisa melihat potensi seseorang secara lebih objektif, baik dari sisi kompetensi, behavior, maupun leadership-nya. Karena kadang seseorang terlihat sangat kuat di area teknis, tetapi ternyata memiliki tantangan besar di area leadership atau strategic thinking. Dengan proses assessment yang tepat, perusahaan bisa melihat apakah seseorang benar-benar siap naik satu level jabatan atau masih membutuhkan pengembangan terlebih dahulu. Nah tenang, kalau Bapak-Ibu bingung bagaimana melakukan assessment yang tepat, Sinergia Consultant juga dapat membantu perusahaan Anda melakukan assessment tersebut. Sehingga perusahaan bisa mendapatkan gambaran apakah seseorang siap dipromosikan, perlu pengembangan tertentu, atau ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum naik jabatan. Ada solusi yang bisa Bapak-Ibu ambil untuk melakukan assessment di perusahaan. Bapak-Ibu bisa klik link ini, menghubungi nomor yang tersedia, atau masuk ke website Sinergia Consultant. Apabila Bapak-Ibu masih ingin berdiskusi lebih dalam terkait assessment maupun promosi jabatan, kami juga siap membantu untuk berdiskusi lebih lanjut sesuai kebutuhan perusahaan Anda. So, jangan lupa selalu terhubung dengan Sinergia Consultant. Saya Wisnu, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant, mengucapkan sampai jumpa lagi di pembahasan dan pembelajaran selanjutnya. See you.

Wisnu Ardhi


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Sistem Sudah Dibangun, Tapi Kenapa Perusahaan Masi Stuck?

Halo business owner, HR practitioner, dan professional leader. Ketemu lagi dengan saya Wisnu Ardi. Saya ingin sedikit bercerita, di luar sana, saya melihat banyak perusahaan yang berlomba-lomba berinvestasi pada sistem mereka. Mereka ingin membangun sistem yang rapi, tertata dan terstruktur. Para business owner dan professional leader mulai merancang struktur organisasi, membangun KPI, membuat job desc

Read More

Cara Memastikan Penilaian Bisa Tepat Sasaran!

Halo business owner, human capital practitioner, dan professional leader. Kembali lagi bersama saya Aditya Wahyu, Human Capital Coach dari Sinergia Consultant. Di artikel sebelumnya kita sempat membahas bahwa proses recruitment seringkali tidak sesederhana memilih kandidat yang terlihat paling bagus saat interview. Ada banyak situasi di mana kandidat terlihat sangat meyakinkan di awal, tetapi performanya ternyata

Read More