December 10, 2025 |  Minutes

Job Hugging vs Family Hugging: Cerita di Balik Ruang Assessment

0  comments

“Saya sebenarnya sudah capek, Mas. Tapi ya gimana… yang penting masih bisa makan.”

Haii! kembali lagi dengan Delia, yuk cerita sedikit..

Kisah ini datang dari program assessment ODP/MT yang baru saja diselesaikan oleh tim Sinergiaka. Pesertanya campur: ada yang masih fresh graduate dengan semangat penuh ambisi, ada yang mid-career dengan harapan menemukan jalan baru, bahkan ada juga yang pernah duduk di level manajerial. Uniknya, program ini tidak membatasi usia maksimal. Siapa pun boleh ikut, selama memenuhi kriteria basic.

Ketika mendengar cerita itu, saya langsung sadar bahwa proses assessment bukan hanya tentang mengevaluasi kemampuan seseorang. Ia adalah cerita tentang pilihan hidup, prioritas, dan pergulatan internal yang tidak selalu tampak dari CV.

Dan di sinilah perjalanan itu dimulai.

k r

Hari Pertama Cerita di Balik Ruang Assessment: Tes yang Membuka Pintu

Di hari pertama, para peserta menjalani Paper & Pencil Test. Katanya, suasananya hampir seperti ujian masuk universitas. Bahkan ada satu peserta yang bilang “Wah, ini berasa ujian SIMAK UI, Kak.” Keduanya tertawa, dan ekspresi gugup berubah sedikit lebih santai.

Tapi seperti yang sering terjadi dalam dunia assessment, kejutan tidak pernah datang terlalu cepat. Tes hari pertama hanya mengukur baseline kemampuan kognitif, gaya kerja, kecenderungan perilaku. Belum ada sesuatu yang benar-benar membentuk cerita.

Barulah di hari kedua, semuanya mulai terbuka.

Hari Kedua Cerita di Balik Ruang Assessment : Interview & Case Study

Pada tahap ini, sekitar 30 peserta tersisa. Biasanya, di titik ini assessor bisa melihat gambaran yang lebih jernih tentang bagaimana seseorang berpikir, apa nilai hidup yang mereka pegang, dan bagaimana mereka menavigasi pilihan karier. Ada dua fenomena yang terus muncul berulang, seolah menjadi pola baru dalam dunia kerja yang penuh ketidakpastian ini.

Dan jujur, ketika saya merasa dua fenomena ini sangat relevan di banyak perusahaan saat ini.

Fenomena 1: “Job Hugging” – Bertahan Karena Takut Melepaskan

Fenomena pertama adalah Job Hugging. Saya pribadi langsung mengangguk ketika mendengar istilah ini, karena terasa sangat dekat dengan realita yang banyak kita lihat di lapangan. Job Hugging adalah kecenderungan seseorang untuk bertahan di pekerjaan yang sebenarnya tidak lagi membuat mereka bahagia, tidak lagi menantang mereka, dan bahkan tidak lagi relevan dengan tujuan hidup mereka. Tapi mereka tetap bertahan. Bukan karena cinta, tapi karena takut.

Takut kehilangan pemasukan.
Takut tidak mendapatkan pekerjaan baru.
Takut keluar dari zona nyaman.
Takut mengambil risiko besar di tengah ekonomi yang membingungkan.

Ada seorang kandidat internal yang berkata jujur,

“Saya sebenarnya sudah capek, Mas. Tapi ya gimana… yang penting masih bisa makan.”

Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Dan ketika saya mencerna ceritanya, saya sadar: kadang perusahaan melihat karyawan sebagai posisi yang perlu diisi. Tapi di balik posisi itu ada manusia yang sedang bernegosiasi dengan ketakutannya sendiri.

Job Hugging adalah cermin. Cermin tentang betapa tidak mudahnya membuat keputusan karier di era penuh ketidakpastian seperti sekarang.

Fenomena 2: “Family Hugging” – Ketika Prioritas Hidup Menang atas Ambisi

Fenomena kedua terasa jauh lebih emosional. Namanya Family Hugging. Jika Job Hugging adalah tentang bertahan, Family Hugging adalah tentang pulang. Ini adalah keputusan seseorang untuk memprioritaskan keluarga meski itu berarti meninggalkan karier bagus, jabatan prestisius, atau peluang besar.

Ada yang ingin merawat orang tua.
Ada yang ingin lebih dekat dengan anak.
Ada yang ingin memperbaiki kualitas hubungan di rumah.
Ada yang hanya ingin hidup lebih selaras, bukan lebih sibuk.

Salah satu cerita yang paling membekas datang dari seorang kandidat mantan manajer di Astra International. Kariernya jelas sangat baik. Track record-nya solid. Tapi ia memutuskan resign. Bukan karena bosnya toxic, bukan karena pekerjaan terlalu berat, dan bukan karena ingin pindah industri. Melainkan karena ibunya sakit, dan dia adalah satu-satunya anak yang bisa merawat.

Ketika mendengar bagian ini, saya tertegun. Karena sekuat-kuatnya seseorang di CV, pada akhirnya mereka tetap manusia: dengan orang tua, anak, pasangan, kebutuhan, dan keterikatan emosional yang tidak bisa diabaikan. Family Hugging mengingatkan kita bahwa tidak semua keputusan karier lahir dari ambisi. Kadang, keputusan itu lahir dari cinta.

Refleksi: Manusia di Balik Jabatan

Ssaya merasakan bahwa assessment kali ini bukan hanya tentang penilaian. Ini tentang memahami manusia di balik jabatan. Tentang membuka jendela kecil untuk melihat apa yang sering tidak tertulis di CV. Karena CV bisa mencatat pengalaman. Tapi hanya perbincangan manusia yang bisa mengungkap:

  • Value hidup,

  • Prioritas,

  • Ketakutan,

  • Harapan,

  • dan pertimbangan yang membentuk perjalanan seseorang.

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia people development, saya percaya insight ini penting sekali untuk para pemimpin. Karena pada akhirnya:

SDM bukan angka. SDM bukan sekadar kompetensi. SDM adalah individu.

Individu yang sedang menjalani kehidupan.
Individu yang membuat keputusan berdasarkan apa yang mereka anggap benar.
Individu yang kadang memilih bertahan, dan kadang memilih pulang.

Dan tugas kita sebagai pemimpin?
Menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk jujur.
Ruang di mana ambisi boleh besar, tapi nilai hidup tetap dihargai.
Ruang di mana pekerjaan tidak sekadar menjadi kewajiban, tapi bagian dari perjalanan menjadi manusia yang lebih utuh.

Kalau Anda pernah melihat fenomena serupa di tim Anda, Anda boleh connect dengan kami disini. Karena memahami manusia bukanlah pekerjaan sehari, itu adalah perjalanan panjang, dan kita semua sedang belajar di dalamnya.

Adelia Putri Arinatasyah


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>