Halo, Teman-teman semua! Kita semua tentu tahu bahwa training atau pengembangan SDM merupakan hal yang sangat penting di sebuah perusahaan. Melalui training, perusahaan berharap kompetensi karyawan terus berkembang dan mampu mengikuti perubahan yang terjadi di dunia kerja.
Bayangkan saja jika tidak ada pengembangan kompetensi di dalam organisasi. Sementara perusahaan lain terus berkembang, meningkatkan kemampuan timnya, dan bergerak lebih cepat dari kita.
Namun sayangnya, tidak semua karyawan melihat pembelajaran sebagai bagian dari perjalanan karier profesional mereka. Tidak sedikit yang akhirnya merasa bahwa training hanyalah tambahan aktivitas di tengah pekerjaan yang sudah padat. Tidak sedikit yang justru merasa pelatihan sebagai beban tambahan.
“Training lagi, kerjaan belum selesai sudah dipanggil ikut training.”
Kalau ada waktu tambahan mungkin masih terasa ringan. Tapi ketika pekerjaan masih menumpuk, kemudian harus mengikuti pelatihan satu hari, dua hari, bahkan tiga hari, sering kali muncul perasaan bahwa pekerjaan justru semakin bertambah.
Situasi seperti ini cukup sering saya temui ketika berinteraksi dengan berbagai klien. Di satu sisi, manajemen memiliki niat yang sangat baik untuk mengembangkan SDM. Namun di sisi lain, respons dari karyawan tidak selalu seperti yang diharapkan.
Bagi Anda yang berperan sebagai HR person, human capital practitioner, ataupun business owner, situasi ini tentu bisa terasa cukup mengganggu. Bahkan kadang menimbulkan rasa greget.
Sudah disiapkan ruang belajar, sudah disediakan program pelatihan, tetapi antusiasme yang muncul justru minim.
Padahal jika dilihat dari prosesnya, menyiapkan program pelatihan bukanlah hal yang sederhana. Tim HR harus menyiapkan modul, program pembelajaran, hingga mekanisme pelaksanaan. Tim finance juga perlu mengalokasikan anggaran. Bahkan dalam beberapa kasus, proposal pelatihan perlu dipresentasikan dan meyakinkan jajaran BOD agar program tersebut dapat dijalankan.
Dengan effort sebesar itu, wajar jika muncul pertanyaan besar:
Bagaimana sebenarnya cara membangkitkan antusiasme karyawan untuk belajar?
Namun sebelum membahas solusinya, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu beberapa alasan mengapa karyawan sering kali tidak bersemangat mengikuti program pelatihan.
Berdasarkan pengalaman saya melakukan observasi dan evaluasi di berbagai perusahaan, ada beberapa pola yang cukup sering muncul.
4 Penyebab Karyawan Tidak Antusias Mengikuti Training!
1. Mindset Belajar Dianggap Sudah Selesai
Mari kita kembali sedikit ke masa sekolah. Ketika masih SD, mungkin sebagian dari kita masih merasa senang pergi ke sekolah. Bertemu teman, bermain bersama, dan PR pun belum terlalu banyak. Namun ketika memasuki SMP atau SMA, semangat itu sering kali mulai berubah. Kita tetap pergi ke sekolah karena itu kewajiban, tetapi tidak selalu dengan semangat yang sama setiap hari.
Ada hari ketika kita merasa sangat bersemangat. Tetapi ada juga hari ketika kita berpikir, “Aduh, hari ini ada ulangan.” Hal yang sama sebenarnya terjadi dalam dunia kerja. Banyak orang secara tidak sadar memiliki mindset bahwa proses belajar sudah selesai ketika mereka menyelesaikan pendidikan formal. Ketika lulus kuliah atau menyelesaikan S1, seolah-olah tugas belajar sudah berakhir.
Setelah itu, fokusnya bergeser menjadi bekerja. Akibatnya, belajar tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan. Belajar justru terasa seperti tambahan tugas atau kewajiban baru. Kalau Anda ingin memahami lebih lanjut terkait mindset, bisa cek disini yaa!
2. Kekhawatiran Pekerjaan Menjadi Semakin Menumpuk
Alasan kedua yang cukup sering muncul adalah kekhawatiran bahwa pekerjaan akan semakin menumpuk. Banyak karyawan mengikuti pelatihan dengan pikiran yang sebenarnya masih terbagi. Secara fisik mereka hadir di ruang pelatihan, tetapi secara mental masih memikirkan pekerjaan yang sedang menunggu.
“Deadline saya bagaimana ya?”
“Kerjaan saya nanti siapa yang handle?”
Situasi ini sering terlihat ketika peserta pelatihan diam-diam membuka laptop atau mengecek ponsel di tengah sesi. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari menerima telepon dari pelanggan hingga mengurus pekerjaan yang tertunda. Hal ini terjadi karena waktu yang digunakan untuk belajar dianggap sebagai waktu yang diambil dari pekerjaan. Akibatnya, pelatihan tidak sepenuhnya dinikmati.
3. Pengalaman Belajar yang Tidak Menyenangkan
Penyebab berikutnya adalah pengalaman belajar yang kurang menyenangkan. Coba kita refleksikan sebentar. Berapa banyak dari kita yang pernah merasa mengantuk saat mengikuti training? Atau merasa bosan karena materi yang disampaikan terasa berulang?
Dalam beberapa kasus, metode pelatihan yang digunakan masih sangat monoton. Peserta hanya diminta duduk di ruangan selama berjam-jam sambil mendengarkan penjelasan trainer. Jika materi yang diberikan terlalu teoritis dan tidak terasa relevan dengan pekerjaan sehari-hari, peserta juga sering merasa bahwa mereka sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut.
“Kalau cuma seperti ini, saya sudah tahu.”
Namun ketika mencoba menerapkannya di lapangan, ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan. Akibatnya, pelatihan hanya terasa seperti formalitas. Peserta hadir sekadar untuk memenuhi kewajiban atau mencatat kehadiran, tanpa benar-benar terlibat dalam proses belajar.
4. Tidak Ada Tindak Lanjut dari Hasil Pembelajaran
Hal terakhir yang juga cukup sering terjadi adalah tidak adanya tindak lanjut setelah pelatihan selesai. Misalnya sebuah perusahaan mengirim karyawan mengikuti pelatihan eksternal. Programnya menarik, biayanya tidak sedikit, dan peserta pun merasa mendapatkan banyak insight selama mengikuti kelas tersebut. Namun ketika kembali ke perusahaan, tidak ada ruang untuk menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari.
Tidak ada keputusan yang mendukung implementasi. Tidak ada sistem yang memungkinkan perubahan. Bahkan tidak ada diskusi lanjutan mengenai apa yang bisa diterapkan dari hasil pelatihan tersebut. Akibatnya, semangat yang sebelumnya muncul perlahan menghilang. Tidak ada perubahan yang terjadi. Tidak ada pengakuan terhadap proses belajar yang sudah dilakukan. Jika situasi ini terus berulang, wajar jika pada akhirnya muncul perasaan,
“Untuk apa ikut training?”
Situasi-situasi seperti ini cukup sering saya temui ketika berinteraksi dengan berbagai perusahaan. Dan mungkin saja sebagian dari pengalaman tersebut juga pernah terjadi di organisasi Anda.
Kalau kita rangkum, setidaknya ada empat hal utama yang sering membuat karyawan tidak antusias mengikuti program pelatihan:
- Mindset belajar dianggap sudah selesai setelah pendidikan formal.
- Kekhawatiran pekerjaan menjadi semakin menumpuk ketika mengikuti training.
- Pengalaman belajar yang kurang menyenangkan karena metode yang monoton atau terlalu teoritis.
- Tidak adanya tindak lanjut setelah pelatihan selesai.
Ketika empat hal ini terjadi, wajar jika training akhirnya terasa seperti kewajiban saja. Karyawan hadir, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam proses belajar. Karyawan hadir, tetapi tidak benar-benar terlibat dalam proses belajar.
Nah, pertanyaannya sekarang:
“Jika itu yang membuat karyawan tidak antusias belajar, lalu bagaimana cara membangun kembali semangat belajar di dalam organisasi?”
Bagaimana agar pelatihan tidak lagi terasa seperti beban tambahan, tetapi justru menjadi ruang yang dinantikan oleh karyawan? Di artikel berikutnya, kita akan membahas beberapa pendekatan yang bisa dilakukan oleh business owner, leader, maupun HC practitioner untuk membangun kembali antusiasme belajar dalam tim.
Mulai dari bagaimana melibatkan karyawan sejak awal, menghubungkan pelatihan dengan tujuan karir, hingga merancang metode pembelajaran yang lebih hidup dan relevan.
Baca lanjutannya di sini: Bagaimana Membuat Karyawan Semangat Mengikuti Training?
Semoga artikel ini bisa menjadi bahan refleksi awal bagi Anda dalam melihat kembali program pelatihan yang selama ini dijalankan di organisasi. Karena pada akhirnya, pelatihan bukan hanya soal menyediakan kelas atau materi. Tetapi tentang bagaimana kita membangun budaya belajar yang benar-benar hidup di dalam perusahaan. Let’s connect!


