March 6, 2026 |  Minutes

3 Cara Menjaga Energi Agar Tetap Produktif Saat Ramadhan!

0  comments

Halo Business Owner, HC Practitioner, dan Professional Leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant Hari ini kita memasuki bulan Ramadhan, bulan yang sangat ditunggu oleh umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa. Di momen ini, banyak orang mulai merasakan perubahan energi saat berpuasa. Ada yang merasa lebih tenang, tetapi ada juga yang merasa energinya menurun sehingga konsentrasi dan produktivitas kerja ikut terpengaruh.

Energi Menurun Saat Puasa, Apakah Itu Wajar?

Dalam beberapa sesi coaching yang saya lakukan bersama klien, saya terkadang melihat kondisi yang cukup menarik. Ada beberapa orang yang terlihat lebih lesu, kurang berenergi, bahkan cara berbicaranya pun terasa lebih pelan dan lemah. Biasanya ketika memulai sesi coaching, saya selalu menanyakan level energi atau apa yang sedang mereka rasakan saat itu. Dari situ, beberapa orang langsung mengatakan bahwa energi mereka sedang menurun dan konsentrasi juga mulai berkurang.

Hal ini cukup terasa terutama ketika sesi coaching dilakukan di siang hari. Energi yang sejak pagi sudah digunakan untuk berbagai aktivitas mulai terasa menurun. Akibatnya, konsentrasi tidak sekuat di pagi hari. Bahkan dalam beberapa situasi, respons menjadi lebih lambat. Ada juga kondisi di mana sebuah poin penting perlu saya ulang beberapa kali agar benar-benar menjadi perhatian bagi mereka.

Tentu saja, sebagai leader atau business owner, kita berharap kondisi seperti ini tidak terjadi terlalu sering. Jangan sampai bulan Ramadhan justru identik dengan menurunnya produktivitas tim. Karena ketika produktivitas menurun, tentu hal-hal yang seharusnya bisa dikerjakan oleh tim menjadi tidak maksimal.

Benarkah Puasa Membuat Produktivitas Turun?

Ada satu hal menarik yang sempat saya temukan dari sebuah artikel di Fortune yang membahas tentang intermittent fasting. Dalam artikel tersebut disebutkan pendapat seorang ahli bernama Mark Mattson, yang menjelaskan bahwa ketika manusia berpuasa dan tubuh sudah mulai beradaptasi, justru kondisi tersebut dapat meningkatkan fokus.

Hal ini cukup relevan dengan apa yang saya rasakan juga. Di awal-awal puasa, tubuh memang terasa seperti belum bersahabat. Namun sebenarnya yang terjadi adalah tubuh sedang beradaptasi. Sebelumnya kita terbiasa makan tiga kali sehari, bahkan bisa lebih. Kita juga bisa minum kapan saja. Tetapi ketika berpuasa, pola tersebut berubah. Kita tidak makan dan tidak minum dalam jangka waktu tertentu.

Dalam kondisi ini, tubuh sedang beralih dari pembakaran gula menuju pembakaran lemak sebagai sumber energi. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa dalam kondisi tersebut justru dapat terjadi peningkatan fungsi kognitif. Artinya, puasa tidak selalu identik dengan penurunan energi atau performa kerja.

Jika kita tarik ke dalam konteks organisasi, mungkin yang berubah sebenarnya bukan kapasitasnya, tetapi ritme energinya. Bukan produktivitasnya yang hilang, tetapi jam optimalnya yang bergeser. Dan bukan komitmennya yang menurun, tetapi mungkin sistem kerja yang belum cukup fleksibel untuk menyesuaikan kondisi tersebut.

Cara Menjaga Energi Agar Tetap Produktif Saat Ramadhan

Di sini saya ingin berbagi beberapa hal yang saya lakukan secara pribadi selama bulan Ramadhan untuk menjaga energi agar produktivitas tetap terjaga.

1. Tetap Bergerak dan Berolahraga

Saya memiliki hobi berlari. Bahkan di bulan April nanti saya berencana mengikuti sebuah event lari dengan jarak yang cukup panjang. Karena itu, saya tidak boleh kehilangan momentum latihan. Jika saya berhenti berlatih selama Ramadhan, akan sangat sulit untuk kembali membangun energi dan ritme latihan menjelang event tersebut. Karena itu selama Ramadhan saya tetap berlatih, meskipun intensitasnya saya kurangi.

Menariknya, dengan tetap bergerak saya justru merasa energi saya lebih terjaga. Bukan malah semakin lelah, tetapi tubuh terasa tetap aktif dan produktif. Jadi hal pertama yang saya lakukan adalah tetap bergerak, tetapi dengan intensitas yang lebih terkontrol agar tidak menyebabkan kelelahan atau dehidrasi.

2. Mengatur Pola Makan Saat Sahur

Hal kedua yang saya jaga adalah konsumsi makanan sehat. Saya menyadari bahwa jika saya makan secara sembarangan, energi saya justru lebih cepat turun dan konsentrasi saat bekerja juga berkurang. Karena itu saat sahur saya mulai mengurangi makanan berat seperti nasi dengan karbohidrat tinggi.

Sebagai gantinya saya memilih makanan seperti ubi, jagung, kentang, dan telur. Beberapa orang bertanya apakah itu cukup membuat kenyang. Kalau dibilang sangat kenyang mungkin tidak, tetapi selama beberapa hari menjalankan pola tersebut saya merasa energi saya justru lebih stabil. Bahkan setelah sahur dan sholat, saya masih bisa berjalan dan tetap melakukan aktivitas yang produktif meskipun konsumsi makanan saya tidak terlalu banyak.

3. Mengatur Prioritas dan Waktu Kerja

Selain menjaga energi secara fisik, saya juga mulai mengatur prioritas pekerjaan dan manajemen waktu dengan lebih baik. Saya mulai memetakan pekerjaan mana yang lebih baik dilakukan di pagi hari dan mana yang bisa dikerjakan di siang atau sore hari. Misalnya pekerjaan yang membutuhkan energi berpikir besar, seperti analisis atau strategi, lebih baik dilakukan di pagi hari.

Sementara di siang hari kita bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih bersifat administratif dan tidak terlalu menguras energi. Kita juga perlu mulai mengevaluasi aktivitas yang sebenarnya kurang produktif. Contohnya adalah meeting yang terlalu panjang, bertele-tele, atau tidak menghasilkan keputusan yang jelas. Aktivitas seperti ini sebaiknya kita review kembali agar lebih efektif dan efisien. Karena pada akhirnya energi kita terbatas, sehingga kita perlu lebih selektif dalam memilih pekerjaan mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Refleksi untuk Para Leader

Dari sini kita bisa mulai merefleksikan satu hal sebagai leader, entah itu sebagai Business Owner, HC Practitioner, maupun Professional Leader.

Apakah benar produktivitas menurun saat berpuasa?

Ataukah sebenarnya,

Kita hanya perlu mengubah cara kerja atau sistem kerja agar produktivitas tetap terjaga?

Karena pada akhirnya bisnis dan pekerjaan tetap harus berjalan selama bulan Ramadhan. Kita tetap bisa mendapatkan berkah dari ibadah Ramadhan, sekaligus tetap menjalankan tanggung jawab dalam pekerjaan. Bahkan bagi teman-teman tim atau karyawan, salah satu berkahnya adalah mereka juga mendapatkan THR.

Namun di sisi lain, karena kita mendapatkan banyak berkah di bulan Ramadhan, kita juga memiliki tanggung jawab untuk tetap menjaga konsistensi dan komitmen dalam bekerja. Meskipun kita sedang menjalankan ibadah puasa, kita tetap perlu menjaga energi agar produktivitas tetap terjaga. Nah, itu dia sharing saya kali ini. Semoga pembelajaran ini bisa memberikan manfaat untuk teman-teman di luar sana.

Sampai jumpa di pembelajaran selanjutnya. Semoga pembelajaran ini bisa bermanfaat untuk Bapak Ibu semuanya. Let’s Connect!

 

Wisnu Ardhi


Mengelola SDM bagi saya seperti menyusun puzzle yang potongannya tidak selalu lengkap atau rapi. Justru di sanalah saya belajar mengamati, memahami, dan menemani proses tumbuh individu bersama tim dan organisasinya. Lewat tulisan, saya mencoba merangkum proses-proses itu agar menjadi insight bagi kita semua. Selamat berporses!


Tags


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>