July 18, 2025 |  Minutes

Ketidaknyamanan Bisa Membuat Leader’s Menjadi Lebih Baik?

0  comments

Haii Business Owner, HC Practitioner dan Professional Leader! Lama tak jumpa, kali ini saya mau cerita sedikit nih, beberapa waktu lalu saya baca artikel dari Forbes yang cukup mengusik pikiran. Judulnya “Why Discomfort Builds Better Leaders.” (“Mengapa Ketidaknyamanan Membentuk Pemimpin yang Lebih Baik.”) Ditulis oleh Sarah Horn dari ESMT Berlin.

Dan jujur, setelah selesai baca, saya jadi mikir

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menciptakan sistem kerja yang aman dan nyaman, sampai-sampai lupa bahwa justru rasa ketidaknyamanan itulah yang sebenernya bisa bikin seseorang berkembang terutama sebagai pemimpin.

Jangan-Jangan, Kita Terlalu Mengejar Kenyamanan?

Sekarang semuanya serba cepat, serba efisien, dan serba terukur. Kita selalu pakai tools yang paling baik, kita punya SOP yang rapi, dan karyawan dijaga supaya nggak terlalu “kewalahan”. Itu hal yang bagus banget, tapi kalau ngga diimbangin dengan hal lain, ternyata malah muncul satu pola yang bisa jadi red flag:

Orang makin jago di technical-nya, tapi makin bingung saat dihadapkan pada situasi chaos, ambiguitas, atau tekanan yang tinggi.

Mungkin kita pernah lihat juga, ada karyawan atau bahkan leader yang bagus banget secara skill, tapi begitu masuk ke zona yang nggak familiar, mereka akan freeze, overthinking, bahkan yang paling parah mereka bisa kehilangan arah.

Sebenernya, ini bukan karena mereka nggak capable, tapi karena mereka nggak biasa "hidup" di ketidaknyamanan. Sampai sini, apakah Anda setuju?

So, Ketidaknyamanan Justru Bisa Menjadi Lahan Latihan Terbaik

Dalam artikel itu, dijelaskan bahwa pengalaman nggak nyaman baik secara fisik maupun emosional, justru malah jadi momen pembentukan paling kuat dalam hidup seorang pemimpin

Kok bisa? karena..

  • Rasa nggak nyaman bisa bikin kita reflektif. Kita mulai mempertanyakan hal-hal mendasar seperti, kenapa ini susah banget? Apa yang sebenarnya saya takutkan? Refleksi ini justru yang bisa bikin cara pikir kita berkembang.
  • Ketidaknyamanan memaksa kita adaptif. Ketika semua cara lama nggak mempan, kita belajar improvisasi, kita belajar untuk bertanta, dan kita juga belajar untuk minta tolong.
  • Dan yang paling penting: rasa nggak nyaman bikin kita hadir sepenuhnya. Kita semua tahu kalau kita nggak bisa autopilot kan? Nggak bisa numpang lewat, yang berarti kita harus benar-benar ada di situ, siap atau nggak siap.

Dari situ muncul kompetensi yang jarang muncul pada saat training: tahan banting, fleksibel, dan otentik. Dan ini yang bikin seseorang bisa jadi pemimpin di lapangan, bukan cuma di atas kertas apalagi cuma didepan laptop.

Ciptakan "Discomfort Zone" yang Aman

Sekarang pertanyaannya:

Gimana caranya kita bisa mengaktifkan ketidaknyamanan sebagai ruang belajar, bukan sebagai sumber stres?

Anda bisa mulai dengan hal-hal yang sederhana, misalnya..

1. Buat tantangan yang masuk akal, tapi bikin deg-degan

Kasih project yang di luar kebiasaan, minta dia handle client meeting, atau libatkan dalam keputusan yang punya dampak besar

Biar mereka nggak cuma jadi pelaksana, tapi mulai merasakan bagaimana rasanya jadi decision maker. Nggak nyaman? wahh itu sudah pasti. Tapi di situ mereka belajar untuk berpikir strategis, mengambil risiko, dan menanggung konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Kadang cukup satu momen seperti ini untuk bikin seseorang “ngeh” soal kapasitas dirinya. Mereka mulai sadar “Oke, ternyata saya bisa juga ya mikir di level ini.” Atau malah, “Wah, ternyata selama ini saya terlalu aman.” Dan kesadaran seperti ini nggak muncul dari training tapi dari pengalaman langsung yang bikin deg-degan dan mikir keras.

2. Support bisa jadi ruang aman saat ketidaknyamanan

Waktu mereka mulai kelihatan nggak nyaman, bingung, ragu, atau bahkan takut salah. Respon pertama kita seringkali ingin langsung bantuin, kasih saran, tunjukin caranya, atau bahkan ngerjain sebagian supaya mereka nggak kewalahan. Niatnya emang baik, tapi justru itu yang bikin mereka jadi nggak belajar apa-apa.

Support itu bukan cuma memberi jawaban, tapi menciptakan ruang aman buat mereka mikir. Kita bisa temani mereka melewati rasa nggak yakin itu. Dengarkan,  ajukan pertanyaan yang bikin mereka merefleksikan opsi. Tapi biarkan mereka sendiri yang menentukan langkah berikutnya.

Karena dalam situasi seperti ini, yang sedang dilatih bukan cuma cara kerja, tapi cara berpikir.
Dan cara berpikir nggak akan berkembang kalau kita selalu dipandu, dikoreksi, atau “diselamatkan”.

Mereka butuh tahu bahwa boleh bingung, boleh nggak yakin, tapi mereka tetap bisa ambil keputusan. Dan ketika mereka tahu itu, rasa percaya dirinya pelan-pelan naik bukan karena pujian, tapi karena pembuktian ke diri sendiri “Ternyata Saya bisa.”

3. Ajak refleksi setelahnya

Setelah fase nggak nyaman itu udah lewat dan apa pun hasilnya, berhasil atau masih berantakan, jangan langsung move on ke tugas berikutnya.
Justru di momen ini, penting banget untuk pause dan ajak mereka ngobrol.

Bukan evaluasi dalam arti performa, tapi refleksi. Obrolan santai yang isinya bukan “apa yang salah”, tapi “apa yang dirasakan.”
Tanya hal-hal sederhana tapi bermakna, seperti:

  • “Gimana rasanya waktu Anda diminta ambil keputusan sendiri?”

  • “Ada bagian yang bikin Anda stuck banget?”

  • “Kalau kejadian serupa terulang, Anda bakal ngelakuin apa dengan cara berbeda?”

Dari obrolan kayak gini, biasanya muncul insight yang jauh lebih dalam daripada yang kita duga. Mereka mulai bisa melihat perjalanan mereka sendiri, bukan sekadar tugas yang dikerjakan. Mereka bisa mengaitkan emosi dengan pelajaran, dan itulah yang bikin pengalaman itu nempel, bukan cuma lewat gitu aja.

Buat rekan-rekan HC dan Business Owner, ini bisa jadi momen buat review ulang pendekatan kita

  • Program leadership kita selama ini, udah cukup ngasih ruang buat orang belajar lewat real case, belum ya?

  • Kita terlalu ngejagain tim, sampai mereka nggak pernah ngerasain tekanan yang bikin mereka tumbuh, nggak sih?

  • Budaya kerja kita, udah cukup kasih ruang buat orang buat coba dan mungkin gagal… atau malah bikin orang takut kelihatan salah?

Karena pada akhirnya, pemimpin nggak lahir dari ruang yang nyaman. Mereka tumbuh dari tempat yang bikin mereka ragu, gugup, bahkan takut tapi tetap maju.

Artikel ini diakhiri dengan kalimat yang cukup nempel di kepala:

Never cease to seek out the discomfort. Through it, you may discover a version of yourself who is wiser, braver, and more present.

Dan setelah saya pikir-pikir, betul juga. Kadang justru di titik-titik paling nggak nyaman dalam hidup, kita melihat versi terbaik dari diri sendiri.

So, mungkin ini jadi pengingat buat kita semua, kalau sedang merasa tidak nyaman, jangan buru-buru kabur. Bisa jadi… itu bukan akhir, tapi awal dari diri yang lebih kuat.

Mungkin saat ini Bapak/Ibu sedang mengevaluasi lagi seperti apa cara paling tepat membentuk pemimpin-pemimpin baru di tim. Kadang satu jam diskusi ringan bisa membuka banyak perspektif baru, terutama soal hal-hal yang seringkali tidak tertulis di modul pelatihan, tapi sangat nyata di lapangan. Sampai jumpa di cerita selanjutnya!

Adelia Putri Arinatasyah


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags

Business Owner, Human Capital Practitioner, Leaders


You may also like

Simak 3 Cara untuk Memperbaiki Proses Rekrutmen Anda!

Halo Bapak Ibu business owner, human capital practitioner, dan para professional leader. Kembali lagi bersama saya, Aditya Wahyu, Human Capital Coach dari Sinergia Consultant. Dalam proses rekrutmen, kita sering merasa bahwa tantangan hari ini adalah mencari kandidat. Padahal di artikel sebelumnya kita sudah bahas bahwa tantangan rekrutmen hari ini bukan lagi kekurangan kandidat, tapi justru

Read More

Masalahnya Bukan di Kandidat, Tapi di Cara Kita Menilai

Halo Bapak Ibu business owner, human capital practitioner, dan para professional leader. Kembali lagi bersama saya, Aditya Wahyu, Human Capital Coach dari Sinergia Consultant. Kita lanjutkan pembahasan kemarin ya. Kalau di artikel sebelumnya kita sudah ngobrol bahwa hari ini tantangannya bukan lagi kekurangan kandidat, tapi justru terlalu banyak kandidat tanpa kejelasan mana yang benar-benar tepat.

Read More