Saya juga sempat interview supervisor yang sejak awal jawabannya terasa kurang nyambung. Ketika ditanya alasan resign, jawabannya justru lebih banyak curhat dan blaming dibanding menjawab secara relevan. Pendidikannya S2, dari pola seperti itu biasanya mulai terlihat cara berpikir, sense of initiative, dan pemahaman kandidat terhadap pekerjaannya, A
Karena itu, proses interview sebenarnya tidak cukup hanya dengan mendengar jawaban di permukaan. Interviewer juga perlu memiliki kemampuan observasi dan probing untuk membaca konteks, pola perilaku, serta kemungkinan bias yang muncul selama interview.
Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa keputusan hiring sering dipengaruhi oleh kesan di beberapa menit pertama. Padahal kandidat yang terlihat rapi, sigap atau menarik di awal belum tentu benar-benar sesuai dengan realita pekerjaannya.
Contohnya saat kandidat ditanya apakah mampu bekerja di bawah tekanan? Hampir semua akan menjawab, "bisa". Tapi pertanyaannya, sejauh apa dia mampu menghadapi tekanan dan bagaimana cara mereka mengatasinya? Disinilah pentingnya menggali konteks, bukan hanya menerima jawaban secara literal.
Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Kembali lagi dengan saya, Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengapa perusahaan bisa stuck meski tetap beroperasi, dan dua solusi awal yang bisa mulai diterapkan. Sekarang kita lanjut ke dua solusi berikutnya yang tidak kalah penting. 3.
Read More
Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Kembali lagi dengan saya, Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Di sini saya akan mengajak Bapak-Ibu membayangkan satu situasi di mana sebuah perusahaan stuck, tidak berkembang dan tidak bergerak, tetapi masih bisa beroperasi setiap hari. Aktivitas tetap berjalan, turnover masih ada, jumlah karyawan
Read More