Saya juga sempat interview supervisor yang sejak awal jawabannya terasa kurang nyambung. Ketika ditanya alasan resign, jawabannya justru lebih banyak curhat dan blaming dibanding menjawab secara relevan. Pendidikannya S2, dari pola seperti itu biasanya mulai terlihat cara berpikir, sense of initiative, dan pemahaman kandidat terhadap pekerjaannya, A
Karena itu, proses interview sebenarnya tidak cukup hanya dengan mendengar jawaban di permukaan. Interviewer juga perlu memiliki kemampuan observasi dan probing untuk membaca konteks, pola perilaku, serta kemungkinan bias yang muncul selama interview.
Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa keputusan hiring sering dipengaruhi oleh kesan di beberapa menit pertama. Padahal kandidat yang terlihat rapi, sigap atau menarik di awal belum tentu benar-benar sesuai dengan realita pekerjaannya.
Contohnya saat kandidat ditanya apakah mampu bekerja di bawah tekanan? Hampir semua akan menjawab, "bisa". Tapi pertanyaannya, sejauh apa dia mampu menghadapi tekanan dan bagaimana cara mereka mengatasinya? Disinilah pentingnya menggali konteks, bukan hanya menerima jawaban secara literal.
Halo business owner, human capital practitioner, dan professional leader. Kembali lagi bersama saya Aditya Wahyu, Human Capital Coach dari Sinergia Consultant. Di dua artikel sebelumnya kita sudah bahas tentang tantangan recruitment. Yang pertama, kalau Anda masih ingat, isunya adalah jumlah kandidat membludak, tapi hanya sedikit yang benar-benar cocok. Yang kedua, kita bicara soal keterbatasan alat
Read More
Halo, business owner, HR practitioner, dan professional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant. Sebelumnya saya pernah ngajak nih membahas tentang onboarding dari sudut pandang yang lebih mendasar. Yaitu bagaimana kita membangun onboarding bukan hanya dengan pengenalan tapi juga membangun rasa belonging. Kalau kita tarik lebih jauh,
Read More