June 23, 2026 |  Minutes

Gen Z Cepat Resign? Ini yang Perlu Perusahaan Lakukan

0  comments

Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengapa Gen Z sering dianggap cepat resign dan bagaimana cara pandang yang lebih tepat dalam melihat persoalan ini. Sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting: apa yang bisa dilakukan oleh perusahaan? Sebenarnya tujuan dari pembahasan ini bukan untuk memetakan atau membedakan Gen X, Gen Y, Gen Z, Baby Boomers, dan lain sebagainya. Di dalam sebuah perusahaan pasti akan ada campuran dari berbagai generasi. Karena itu yang perlu dilakukan adalah saling memahami kebutuhan antar generasi. Bukan berarti semua kebutuhan harus diakomodasi sepenuhnya. Tetapi kita perlu mencari cara untuk membangun kerja sama yang lebih baik.

Bangun Komunikasi yang Sehat Antar Generasi

Salah satu caranya adalah membangun komunikasi yang sehat antar generasi. Misalnya ketika perusahaan membutuhkan sesi brainstorming atau pencarian ide baru, sesekali kita bisa mengadakan pertemuan di luar kantor. Bukan karena ingin mengikuti semua keinginan karyawan, tetapi untuk memberikan suasana yang lebih segar. Dengan begitu komunikasi menjadi lebih cair dan ide-ide baru lebih mudah muncul. Yang terpenting adalah memahami kebutuhan dari masing-masing individu. Pada prinsipnya, kita semua perlu belajar berkomunikasi dan memahami lintas generasi. Karena mau tidak mau kita akan selalu berhubungan dengan orang-orang dari generasi yang berbeda. Bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah kita bertemu orang tua yang mungkin berasal dari generasi yang berbeda. Di lingkungan sosial pun kita akan berinteraksi dengan berbagai kelompok usia. Karena itu kemampuan memahami lintas generasi menjadi semakin penting.

Perbaiki Pola Leadership yang Lebih Adaptif

Yang sering saya lihat, banyak leader yang belum siap menghadapi perubahan pola kerja lintas generasi ini. Akibatnya efektivitas leadership menjadi kurang maksimal. Pola instruksi seperti:
"Pokoknya kerjakan" "Pokoknya harus selesai" "Saya tidak mau tahu caranya bagaimana"
Mungkin perlu mulai diperbaiki. Bukan berarti menjadi lebih lunak, tetapi lebih adaptif terhadap cara berkomunikasi yang efektif. Karena setiap generasi memiliki cara menerima pesan yang berbeda. Ada juga artikel dari World Economic Forum yang menyampaikan bahwa perusahaan masa depan perlu lebih adaptif dalam membangun employee experience dan leadership. Karena pendekatan seorang leader memiliki pengaruh besar terhadap turnover karyawan. Talenta saat ini tidak hanya mencari pekerjaan. Mereka juga mencari lingkungan yang membantu mereka berkembang secara profesional maupun personal. Ketika perusahaan gagal memahami perubahan ini, turnover akan lebih mudah terjadi. Karena itu perusahaan perlu membangun pendekatan kerja yang lebih relevan dengan kebutuhan lintas generasi. Bukan berarti seluruh aturan perusahaan harus diubah. Tetapi perusahaan perlu menghadirkan komunikasi yang lebih sehat, feedback yang lebih jelas, instruksi yang lebih jelas, serta ruang perkembangan yang lebih terasa. Talenta muda tidak selalu menuntut fasilitas atau gaji yang besar. Terkadang mereka hanya ingin didengar, dipahami, dan mengetahui alasan di balik pekerjaan yang mereka lakukan.

Pahami Motivasi Individu dalam Tim

Kalau Bapak-Ibu pernah membaca buku Tiga Kunci Sukses, di dalamnya ada pembahasan mengenai Human Emotional Driver. Di sana dijelaskan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Ada yang membutuhkan diversity and change, responsibility and contribution, security and control, love and belonging, achievement, challenge and growth, excellence, hingga recognition and significance. Memahami kebutuhan-kebutuhan ini membantu leader memahami apa yang memotivasi timnya. Contohnya adalah security and control. Orang dengan kebutuhan ini biasanya membutuhkan rasa aman sebelum menjalankan sesuatu. Misalnya saat diminta melakukan perjalanan dinas. Mereka akan merasa lebih nyaman jika sudah mengetahui tiket perjalanan, penginapan, fasilitas yang tersedia, dan berbagai detail lainnya. Dengan begitu mereka merasa aman dan siap menjalankan tugasnya. Hal-hal seperti ini sering kali terlihat sederhana, tetapi sangat memengaruhi motivasi seseorang. Karena itu seorang leader perlu mulai melihat pola leadership-nya. Bukan hanya mengontrol dan memerintah, tetapi juga memahami timnya. Ada proses feedback, ada proses one-on-one, ada apresiasi kecil yang diberikan kepada tim. Semua itu dapat membantu meningkatkan motivasi kerja. Dan yang terpenting, leader perlu memahami bahwa motivasi setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang bertahan karena gaji atau jabatan. Ada yang bertahan karena ingin belajar, ada yang membutuhkan lingkungan yang sehat, ada yang membutuhkan rasa aman, dan ada yang membutuhkan feedback secara rutin. Jika Anda mampu memahami motivasi yang ada di dalam tim Anda, maka kemungkinan turnover dapat berkurang secara signifikan. Karena pada akhirnya yang dicari banyak orang bukan hanya pekerjaan, tetapi juga tempat untuk berkembang.

Business owner, mungkin tantangan hari ini bukan lagi sekadar mencari orang untuk bekerja. Tetapi bagaimana perusahaan membangun lingkungan yang membuat orang ingin berkembang bersama perusahaan Anda. Ketika perusahaan mampu membangun komunikasi yang sehat, leadership yang adaptif, dan pengalaman kerja yang baik, maka engagement karyawan akan lebih mudah tumbuh. Dan ketika engagement tumbuh, peluang untuk mempertahankan talenta terbaik juga akan semakin besar. So, itu mungkin pembelajaran kita hari ini. Saya Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant, mengucapkan sampai jumpa lagi di pembahasan-pembahasan berikutnya!

Wisnu Ardhi


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Gen Z Cepat Resign? Benarkah Masalahnya Ada di Generasi nya?

Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Beberapa waktu terakhir saya cukup sering mendengar keluhan tentang Gen Z dari beberapa business owner. Ada yang menyampaikan seperti ini, “Pak, sekarang anak-anak muda Gen Z itu kenapa cepat keluar atau cepat resign

Read More

Ketika Jabatan Tidak Lagi Sejalan dengan Kemampuan Berpikir

Pernah nggak Bapak-Ibu merasakan seseorang yang sangat bagus di posisinya, kemudian dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi entah itu supervisor atau manajer? Halo, Business Owner,HC Practitioner dan Profesional Leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant. Kali ini saya mau ngajak Bapak-Ibu semua untuk melihat dari sisi sebuah

Read More