June 23, 2026 |  Minutes

Gen Z Cepat Resign? Benarkah Masalahnya Ada di Generasi nya?

0  comments

Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Beberapa waktu terakhir saya cukup sering mendengar keluhan tentang Gen Z dari beberapa business owner. Ada yang menyampaikan seperti ini,
"Pak, sekarang anak-anak muda Gen Z itu kenapa cepat keluar atau cepat resign dari perusahaan ya?"
Bahkan ada yang baru masuk beberapa bulan sudah kehilangan motivasi kerja. Ujung-ujungnya ya resign lagi. Ada juga yang performanya sebenarnya bagus. Mereka bisa mengerjakan pekerjaan dengan cepat, cekatan, dan mampu mencapai target yang diberikan. Misalkan ada satu pekerjaan yang dituntut selesai sesuai target, mereka bisa mengerjakan tepat waktu bahkan lebih cepat. Tetapi pada akhirnya mereka juga memutuskan untuk keluar. Hal ini sering kali terjadi di luar dugaan perusahaan. Nah, banyak memang situasi seperti ini yang sedang ditemui perusahaan dalam mengelola tim agar lebih stabil, khususnya Gen Z.

Kalau dari saya sendiri, sebenarnya saya bukan orang yang memetakan atau mengklasifikasikan ini Gen Z, Baby Boomers, dan lain sebagainya. Karena saya meyakini bahwa setiap generasi pasti ada yang bibitnya bagus dan ada yang bibitnya kurang bagus. Bukan berarti teman-teman Gen Z itu tidak bagus. Tetapi setiap generasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Itu sudut pandang saya selama ini saat berhubungan dengan lintas generasi. Namun memang yang dirasakan di beberapa kondisi saat ini, seolah-olah Gen Z itu cepat sekali memutuskan untuk keluar masuk dalam sebuah perusahaan. Generasi sekarang memiliki cara pandang, ekspektasi, bahkan kebutuhan yang berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Itu beberapa sudut pandang yang memang saya dapatkan. Dan terkadang hal tersebut mengakibatkan pendekatan kerja yang berbeda. Sebenarnya bukan tentang generasinya, tetapi lebih kepada lingkungan yang berubah. Contohnya yang kita lihat saat dan setelah COVID. Kita mulai mengenal pola kerja baru seperti WFH atau work from home, WFA atau work from anywhere, bahkan WFC atau work from cafe. Pola kerja yang berubah ini menuntut perusahaan untuk melihat apakah pola tersebut cocok diterapkan di perusahaannya atau tidak. Jadi kalau saya melihatnya secara pribadi, bukan tentang Gen Z-nya. Tetapi lebih kepada kebutuhan dan dinamika kerja saat ini yang memang sudah berubah. Yang menarik adalah banyak perusahaan melihat persoalan ini sebagai masalah loyalitas semata. Orang yang keluar masuk dalam waktu singkat sering kali diberi label kurang tahan tekanan, kurang loyal, atau maunya serba cepat. Padahal kalau kita analogikan seperti memasak mi instan, prosesnya juga tidak bisa langsung jadi. Kita tetap harus membuka bungkusnya, merebus air, menyiapkan bumbu, memasukkan mi, lalu menunggu sampai siap dimakan. Semua ada prosesnya. Proses itulah yang terkadang tidak kita lihat sebagai sebuah pembelajaran. Kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Padahal bukan hanya Gen Z yang ingin serba cepat. Di generasi lain pun ada orang-orang yang menginginkan segala sesuatu berlangsung instan dan tidak mau ribet. Padahal semua pekerjaan dan semua hal yang kita lakukan membutuhkan proses. Dan di dalam proses itulah pembelajaran terjadi. Nah, menariknya Gen Z sering mendapatkan label sebagai generasi yang terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat. Mereka dianggap tidak loyal karena baru bekerja beberapa bulan lalu keluar lagi. Tetapi menurut saya itu hanyalah label dan tidak semua orang seperti itu. Justru Gen Z memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat cepat terhadap perubahan. Mereka hidup di era akses informasi yang terbuka, perkembangan teknologi yang sangat cepat, dan berbagai perubahan lingkungan kerja yang dinamis. Karena terbiasa dengan perubahan yang cepat, mereka juga cepat mempelajari sesuatu. Mereka mampu melihat dinamika yang terjadi di luar organisasi dengan sangat cepat. Oleh sebab itu, biasanya ketika kita memberikan pekerjaan kepada teman-teman Gen Z, mereka membutuhkan feedback. Mereka ingin mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai atau belum. Kalau tidak ada feedback yang jelas dan tidak ada komunikasi yang baik, mereka merasa pekerjaannya berjalan tanpa arah. Dan itulah yang sering kali membuat mereka keluar masuk dalam sebuah organisasi. Masalah dalam perusahaan sebenarnya bukan hanya soal bagaimana kita mengelola sistem. Tetapi juga bagaimana kita mengelola talenta-talenta muda yang mulai berdatangan dan masuk ke perusahaan kita. Kita berbicara tentang budaya perusahaan, hubungan antara atasan dan bawahan, maupun hubungan antar generasi. Ada sebuah penelitian dari Gallup yang menyampaikan bahwa peran atasan memiliki pengaruh besar terhadap engagement dan keputusan seseorang untuk bertahan di sebuah perusahaan. Artinya turnover tidak hanya soal gaji atau karakter generasi, tetapi juga soal pengalaman kerja yang mereka rasakan setiap hari. Pengalaman kerja itu sudah mulai dirasakan sejak hari pertama seseorang masuk ke perusahaan. Mulai dari induction training, bagaimana perusahaan memperkenalkan diri, hingga bagaimana perusahaan menyambut kehadiran karyawan baru. Semua itu menjadi pintu masuk yang sangat penting dalam membentuk pengalaman kerja awal. Bukan hanya untuk Gen Z, tetapi untuk semua generasi. Dari situlah seseorang mulai menilai apakah perusahaan ini tempat yang baik untuk berkembang atau tidak. Kalau kita berbicara tentang mempertahankan karyawan, sebenarnya setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing. Misalnya pada generasi X, ada yang melihat bahwa mereka lebih menyukai komunikasi yang formal dan terstruktur. Ada juga anggapan bahwa mereka menolak ide-ide baru yang masih eksperimental. Padahal belum tentu demikian. Yang penting adalah bagaimana kita menyampaikan ide tersebut dengan baik dan memberikan keyakinan bahwa ide tersebut memang layak dicoba. Kemudian ada juga pandangan bahwa generasi X membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan teknologi. Sementara itu, Gen Z biasanya membutuhkan feedback yang lebih konsisten. Ketika mereka tidak mendapatkan feedback dari atasan, mereka mulai bertanya-tanya apakah pekerjaan yang mereka lakukan sudah benar atau belum. Sedangkan generasi Y sering kali kurang nyaman dengan perusahaan yang terlalu kaku dan terlalu banyak aturan. Mereka juga kadang kesulitan membedakan batas antara waktu kerja dan waktu istirahat. Di sisi lain, Gen Z juga memiliki tantangan tersendiri. Mereka terkadang cepat bosan atau sulit fokus karena membutuhkan suasana yang berbeda. Ada yang lebih nyaman bekerja dari cafe atau tempat tertentu untuk mendapatkan suasana baru. Tidak semua perusahaan bisa mengakomodasi hal tersebut. Namun perusahaan tetap bisa menyediakan ruang atau pendekatan tertentu yang membuat mereka mendapatkan penyegaran saat bekerja. Karena ide dan kreativitas sering kali muncul ketika seseorang berada dalam kondisi yang lebih segar. Selain itu, ada juga beberapa bentuk komunikasi yang menurut mereka kurang nyaman jika disampaikan secara langsung dan terlalu keras. Bukan berarti tidak boleh memberikan koreksi. Tetapi mungkin pendekatannya perlu berbeda. Kita bisa memberikan feedback terlebih dahulu, kemudian menjelaskan bagian mana yang perlu diperbaiki. Karena sebagian besar dari mereka juga masih berada dalam tahap awal karier dan masih membutuhkan proses adaptasi terhadap budaya kerja maupun cara kerja organisasi. Lalu apa yang bisa dilakukan perusahaan? Di artikel berikutnya saya akan membahas solusi konkret yang bisa mulai diterapkan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat lintas generasi.

Wisnu Ardhi


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Gen Z Cepat Resign? Ini yang Perlu Perusahaan Lakukan

Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengapa Gen Z sering dianggap cepat resign dan bagaimana cara pandang yang lebih tepat dalam melihat persoalan ini. Sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting: apa

Read More

Ketika Jabatan Tidak Lagi Sejalan dengan Kemampuan Berpikir

Pernah nggak Bapak-Ibu merasakan seseorang yang sangat bagus di posisinya, kemudian dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi entah itu supervisor atau manajer? Halo, Business Owner,HC Practitioner dan Profesional Leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant. Kali ini saya mau ngajak Bapak-Ibu semua untuk melihat dari sisi sebuah

Read More