April 15, 2026 |  Minutes

Culture yang Tidak Disadari, Tapi Menghambat Performa Tim

0  comments

Halo, business owner, HR practitioner, dan professional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardhi. Di sini saya akan menyampaikan hal yang biasanya tidak disadari oleh business owner sesuatu yang tak terlihat, tetapi memiliki dampak yang cukup besar di sebuah organisasi, yaitu culture. Sering terjadi saat pertama kali pendampingan dengan kami di Sinergia Consultant, khususnya waktu saya mendampingi klien di awal, hal ini biasanya tidak terlihat dan sering disepelekan oleh business owner.

Ada yang bilang,

“Meeting saya kok tidak efektif ya Pak? Teman-teman lebih banyak diam, tidak ada yang berani menyampaikan ide. Saat dimintai ide baru, mereka juga diam.” 

Itulah yang biasanya saya lihat sebagai isu culture yang terjadi di sebuah organisasi Bapak-Ibu semua. Dan jika budaya itu terjadi di perusahaan Anda, maka itu akan menjadi budaya yang kurang baik untuk perusahaan Anda.

Culture yang Terbentuk Tanpa Disadari

Kenapa saya bilang itu adalah isu culture?

Hal itu bisa terjadi karena ada suatu kebiasaan yang diulang-ulang, sehingga menjadi sebuah budaya dalam organisasi. Kebiasaan itu bisa Anda sadari atau tidak, tetapi tetap dilihat, dilakukan, dan diduplikasi oleh tim. Apabila kebiasaan yang terjadi adalah hal yang membangun, maka akan menciptakan budaya perusahaan yang positif. Sebaliknya, jika kebiasaan yang dibangun bersifat destruktif, maka akan berdampak negatif.

Salah satu contoh yang pernah saya temui saat mendampingi klien adalah dalam proses meeting. Meeting berjalan satu arah, tanpa feedback dari tim. Jika ini terjadi berulang dalam setiap meeting, maka sebenarnya proses pembentukan budaya sedang terjadi. Dari situ, bisa jadi tim memiliki rasa takut, tidak percaya diri untuk menyampaikan ide. Atau bahkan sebelumnya pernah terjadi saat ada yang menyampaikan ide, langsung disanggah dibilang tidak bagus, tidak tepat, tidak relevan. Akhirnya mereka memilih diam saat diminta pendapat dalam meeting.

Apakah ini bisa diubah? Bisa sekali.

Namun yang perlu disadari, hal ini tidak bisa berubah secara otomatis. Perlu ada penggerak yang membantu culture di perusahaan tersebut bergerak. Culture bukan sesuatu yang otomatis terjadi di perusahaan Bapak-Ibu, tetapi sesuatu yang perlu dibentuk bersama.

Dalam konteks lain, mari kita ambil contoh perusahaan distribusi dengan jumlah karyawan sekitar 700 orang. Kompleksitas operasional yang tinggi membuat budaya menjadi sangat krusial sebagai “pengarah tak terlihat” dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Tanpa budaya yang kuat dan digerakkan bersama, setiap unit atau cabang berpotensi memiliki cara kerja yang berbeda, komunikasi menjadi tidak selaras, dan standar operasional mudah dilanggar terutama dalam situasi tekanan tinggi.

Hal ini dapat berdampak langsung pada keterlambatan distribusi, kesalahan operasional, hingga menurunnya kualitas layanan kepada pelanggan. Sebaliknya, ketika budaya memiliki penggerak yang aktif dan diimplementasikan secara bersama oleh seluruh tim, nilai perusahaan dapat diterjemahkan menjadi perilaku yang jelas dan konsisten.

Misalnya: disiplin waktu, ketepatan proses, dan koordinasi yang efektif antar fungsi. Budaya kemudian berfungsi sebagai panduan praktis yang membantu setiap individu memahami apa yang harus dilakukan tanpa harus selalu diawasi.

Inilah alasan mengapa budaya perusahaan tidak cukup hanya disosialisasikan, tetapi harus digerakkan dan dijaga bersama agar benar-benar memberikan dampak terhadap kinerja, efisiensi operasional, dan keberlanjutan bisnis. Agar membawa dampak besar terhadap kinerja, efisiensi operasional, dan keberlanjutan perusahaan, culture perlu dibentuk.

Lalu, siapa yang membentuk pondasi awal culture di perusahaan?

Culture itu dibentuk dari owner itu sendiri. Karena dari Anda, arah, nilai, dan cara berpikir dasar perusahaan pertama kali ditentukan. Apa yang Anda yakini, bagaimana Anda mengambil keputusan, serta perilaku yang Anda toleransi atau tegakkan akan menjadi standar awal yang kemudian ditiru oleh seluruh perusahaan. Culture apa yang ingin dihadirkan, dan kebiasaan positif apa yang ingin dibangun semua itu berasal dari perilaku yang Anda hadirkan setiap hari.

Ada contoh klien saya, seorang business owner yang memiliki concern dalam kesehatan. Dari situ, terbentuk culture sehat di perusahaannya. Untuk menghidupkan budaya tersebut, dibuatlah kegiatan seperti senam pagi, dan aktivitas lain yang mendukung. Namun kegiatan-kegiatan tersebut tidak bisa berjalan otomatis. Tetap perlu penggerak agar culture bisa dijalankan dengan baik dan terkoordinasi. Jadi saya ulangi, culture tidak terbentuk secara otomatis—tetapi dibentuk.

Peran HR sebagai Panglima Culture

Membentuk culture adalah sebuah seni, karena di dalamnya ada kreativitas. Saya ibaratkan seperti membangun rumah. Anda bisa membayangkan rumah seperti apa yang ingin dibangun—berapa lantai, berapa kamar, menggunakan material apa. Semua itu Anda yang menentukan.

Begitu juga dengan culture. Anda yang menentukan arah dan bentuknya. Namun saat membangun rumah, Anda juga memikirkan interiornya agar nyaman ditinggali. Begitu juga culture harus dirancang agar bisa dihidupi oleh seluruh tim dalam perusahaan. Untuk itu, kita perlu membentuk habit yang sesuai dengan culture yang ingin dibangun.

Contohnya di Sinergia, salah satu value kami adalah transformative. Untuk menghidupkannya, kami memiliki sharing knowledge setiap hari Jumat yang difasilitasi oleh HR dan tidak boleh terlewat. Di sini kita melihat bahwa culture membutuhkan penggerak, dan salah satu penggeraknya adalah HR. HR mengawal proses agar culture benar-benar berjalan.

Bahkan jika menggunakan istilah yang sedang viral, HR bisa kita ibaratkan sebagai panglima culture di perusahaan Anda. Namun HR sebagai panglima tidak bisa bertempur sendiri. Ia membutuhkan tim. Tim ini bisa berasal dari leader maupun individu yang memiliki perilaku positif di perusahaan. Mereka membantu HR dalam membentuk dan menyebarkan budaya di organisasi.

Bayangkan jika perusahaan memiliki sistem yang bagus, memiliki leader, tetapi tidak memiliki spirit. Orang-orang kehilangan semangat, tidak mau berjuang, bahkan memilih menyerah. Energi dan semangat itu tidak terlihat, tetapi sangat menentukan kemenangan. Itulah yang saya sebut sebagai culture.

Culture memang tidak terlihat, tetapi sangat fundamental di perusahaan Anda. Jika culture tidak dibangun, maka sebaik apa pun sistem dan strategi yang dimiliki akan sulit berjalan dengan optimal. Oleh karena itu, mari mulai membangun culture di perusahaan Anda. Bukan hanya dari HR sebagai penggerak, tetapi juga dengan membentuk tim yang lebih besar sebagai penguat.

Gunakan lebih banyak orang, lebih banyak pengaruh, untuk menanamkan budaya yang positif agar energi dalam organisasi tetap hidup. Karena pada akhirnya, culture yang kuat akan menjadi penggerak utama dalam pertumbuhan perusahaan Anda. Mungkin itu pembelajaran dari saya, sampai jumpa di pembelajaran selanjutnya. Namun, di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yang sering muncul:

Ketika culture mulai dibangun, siapa yang paling besar pengaruhnya dalam menjaga dan menghidupkannya di dalam organisasi?

Apakah cukup dari HR sebagai penggerak, atau justru ada peran lain yang lebih kuat dalam menentukan arah dan konsistensinya?

Di pembahasan berikutnya, kita akan melihat lebih dalam bagaimana leader memiliki peran besar dalam membentuk dan memperkuat culture, serta seberapa besar dampaknya terhadap keberlangsungan organisasi.

Wisnu Ardhi


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>