March 17, 2026

THR: Antara Deg-degan dan Kewajiban yang Sering Terlupakan!

0  comments

“THR-nya kapan ya cair?”
Halo business owner, HC practitioner, dan professional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu human capital coach di Sinergia Consultant. Kalau kita bicara momentum menjelang pembayaran THR, ini selalu jadi momen yang menarik. Kenapa? Karena ada satu kata yang hampir pasti muncul di dua sisi: deg-degan. Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya deg-degan di momen ini? Apakah business owner yang mulai menghitung budget untuk membayar THR timnya? Atau justru karyawan yang mulai bertanya-tanya, “THR-nya kapan ya cair?” karena sudah punya rencana belanja? Jawabannya: dua-duanya deg-degan. Dan menariknya, dua-duanya punya alasan yang valid. Di satu sisi, business owner khawatir soal kesiapan dana. Di sisi lain, karyawan punya ekspektasi terhadap hak yang akan mereka terima. Jadi sebenarnya ini bukan soal siapa yang lebih khawatir, tapi bagaimana kita memahami bahwa dua perspektif ini sama-sama nyata.

Memahami Esensi THR yang Sebenarnya

Sebelum kita masuk lebih jauh, penting untuk kita kembali ke esensi dari THR itu sendiri. THR adalah tunjangan hari raya yang memang wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja. Ini bukan pilihan, bukan bonus opsional, tapi kewajiban yang sudah diatur dalam regulasi yang berlaku di Indonesia. Secara aturan, THR harus diberikan paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan. Ini penting, karena seringkali ada miskonsepsi bahwa THR itu fleksibel atau bisa ditunda. Padahal, dari sisi regulasi, ini sudah jelas. Lalu pertanyaan berikutnya yang sering muncul dari klien saya adalah: 
“Apakah THR hanya diberikan saat Idul Fitri?”
Jawabannya tidak. THR bisa diberikan sesuai dengan hari raya keagamaan masing-masing karyawan. Misalnya untuk yang merayakan Natal, THR bisa diberikan menjelang Natal. Begitu juga dengan hari raya keagamaan lainnya seperti Nyepi atau Waisak. Namun dalam praktiknya, banyak perusahaan memilih untuk menyatukan pembayaran THR di momen Idul Fitri. Kenapa? Karena secara administrasi lebih sederhana. Tidak perlu menghitung dan memproses berkali-kali di waktu yang berbeda. Ada juga beberapa perusahaan yang membagi pembayaran THR menjadi dua momen, misalnya saat Idul Fitri dan Natal. Apakah ini boleh? Sangat boleh. Selama tetap mengikuti prinsip bahwa THR diberikan menjelang hari raya keagamaan, maka tidak ada masalah. Yang perlu diperhatikan justru bukan hanya “kapan dibayar”, tapi “seberapa siap kita membayar”. Karena jujur saja, dalam banyak kasus yang saya temui, tantangan terbesar bukan di administrasi. Administrasi itu relatif sederhana. Kita tinggal hitung masa kerja, nominal gaji, lalu diproses dalam payroll. Yang sering jadi masalah adalah: dananya belum siap.

Kesalahan Umum: Menganggap THR sebagai Biaya Dadakan

Ini yang sering terjadi. Banyak business owner baru mulai memikirkan THR satu sampai tiga bulan sebelum hari raya. Lalu muncul strategi dadakan seperti,
“Kita kejar omset yuk, supaya bisa nutup THR.”
Secara semangat, ini bagus. Tapi secara realita bisnis, ini berisiko. Karena tidak semua target omset tambahan bisa tercapai sesuai rencana. Dan ketika itu tidak tercapai, mulailah muncul opsi-opsi yang seharusnya tidak ada, seperti menunda pembayaran atau bahkan tidak membayar sama sekali. Padahal, kembali lagi, THR itu wajib. Di sinilah pentingnya perubahan mindset. THR bukan biaya dadakan. THR adalah biaya yang pasti terjadi setiap tahun, dan sangat bisa diprediksi. Kalau kita tahu bahwa THR akan selalu ada setiap tahun, sebenarnya kita punya keunggulan besar: kita bisa merencanakan. Kita bisa memperkirakan berapa jumlah karyawan tahun depan, berapa estimasi total THR yang harus dibayarkan, bahkan memperhitungkan kemungkinan pertumbuhan bisnis dan penambahan tim. Dari situ, kita bisa mulai menyisihkan dana secara bertahap. Tidak perlu menunggu mendekati hari raya. Justru semakin awal kita siapkan, semakin ringan bebannya. Misalnya, kita punya waktu 12 bulan. Kita bisa bagi beban THR itu ke dalam 12 bulan tersebut. Kalau 12 bulan terasa terlalu panjang, bisa 6 bulan. Tapi saya pribadi tidak menyarankan hanya 3 bulan, karena itu terlalu sempit dan berisiko.

Peran Penting HR dalam Menjaga Kesiapan THR

Di sini, peran HR atau human capital menjadi sangat penting. HR tidak hanya berfungsi sebagai eksekutor administrasi, tapi juga sebagai strategic partner bagi business owner. HR bisa membantu melakukan estimasi kebutuhan THR, menghitung proyeksi biaya, dan yang paling penting: mengingatkan business owner untuk mulai menyisihkan dana secara rutin. Ini bukan soal mengontrol, tapi soal kolaborasi. Karena tanpa komunikasi yang baik antara HR dan business owner, yang sering terjadi adalah “kaget di akhir”. Dan kita tahu, kejutan dalam bentuk kekurangan dana itu bukan hal yang menyenangkan. Kalau kita rangkum, kunci utama agar pembayaran THR berjalan lancar adalah sinkronisasi. Sinkronisasi antara perencanaan bisnis, kondisi keuangan, dan strategi HR. Memang benar, dalam praktiknya banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Mulai dari cash flow, pembayaran pajak, piutang yang belum cair, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya. Semua itu valid. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan: THR tetap wajib dibayarkan. Maka daripada setiap tahun mengalami “drama” yang sama, lebih baik kita duduk bersama, berdiskusi, dan menyusun strategi sejak awal.

Apa yang Perlu Diperbaiki Tahun Ini?

Mumpung masih dalam momentum menjelang THR, ini waktu yang tepat untuk refleksi. Coba kita tanya ke diri kita masing-masing:
Apakah tahun ini kita masih merasa berat saat membayar THR? Apakah prosesnya masih penuh tekanan? Apakah ada hal yang bisa kita perbaiki untuk tahun depan?
Kalau jawabannya iya, berarti ada ruang untuk improvement. Bisa jadi kita perlu sistem yang lebih rapi. Bisa jadi kita perlu disiplin dalam menyisihkan dana. Atau bahkan kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap THR itu sendiri. Ajakan saya sederhana. Yuk kita mulai menanamkan mindset bahwa THR bukan beban mendadak, tapi bagian dari siklus bisnis yang sehat. Ketika kita bisa mengantisipasi, merencanakan, dan menyiapkan dengan baik, maka yang terjadi bukan lagi deg-degan, tapi justru rasa tenang. Business owner tidak pusing. Karyawan pun merasa dihargai dan bahagia. Dan pada akhirnya, inilah yang kita cari dalam sebuah organisasi: keseimbangan antara kewajiban yang terpenuhi dan hubungan kerja yang sehat. So, yuk kita mulai benahi dari sekarang. Minimalisir drama, maksimalkan persiapan. Karena THR bukan soal “nanti gimana”, tapi soal “kita sudah siap dari sekarang atau belum”. Semoga pembelajaran ini bermanfaat, dan sampai jumpa di pembelajaran selanjutnya!

Tags


You may also like

Organisasi Dibangun dari Apa yang Terjadi di Dalamnya

Halo, Business Owner, HC Practitioner, dan Professional Leader. Bertemu saya lagi, Amelia Hirawan. Kali ini saya akan bercerita tentang ruang coaching yang saya dampingi hari ini. Saya semakin yakin bahwa organisasi itu dibangun, salah satunya dari meeting ke meeting. Bukan soal jenis meeting-nya. Tapi tentang bagaimana kita menciptakan dan menyediakan ruang untuk komunikasi. Ruang di

Read More

Budaya Perusahaan yang Dicari Gen Z (Dan Sering Terlewat)!

Halo Business Owner, HC Practitioner, dan Professional Leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Beberapa waktu lalu, saya cukup sering berdiskusi dengan klien-klien saya, khususnya teman-teman profesional yang usianya masih relatif muda. Di sini saya menggunakan istilah Gen Z, bukan untuk mengkotak-kotakkan, tapi lebih sebagai istilah yang

Read More

Produk

Layanan & Konsultasi

Akun & Komunitas