July 20, 2026 |  Minutes

Terlalu Sering Bilang “Iya”? Waspadai Jebakan Menjadi “Yes Man”

0  comments

Selalu Ingin Membantu, Tapi Justru Kewalahan  Pernah mengalami situasi seperti ini?

Hari sudah menjelang sore. Pekerjaan utama sebenarnya masih ada yang perlu diselesaikan, tetapi Anda mulai membayangkan akhir pekan yang akhirnya bisa digunakan untuk beristirahat. Tiba-tiba, atasan atau rekan kerja datang membawa permintaan baru.
"Bisa bantu kerjakan ini? Senin pagi sudah harus selesai."
Di dalam hati Anda langsung berhitung. Waktu rasanya tidak cukup, pekerjaan utama belum selesai, dan tugas tambahan itu sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab Anda. Namun entah mengapa, jawaban yang keluar tetap sama.
"Iya, nggak apa-apa."
Kalimat sederhana ini mungkin terdengar seperti bentuk kerja sama yang baik. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa bahwa semakin sering membantu, semakin besar pula kesempatan untuk dianggap sebagai karyawan yang berdedikasi. Padahal, jika kebiasaan ini terus dilakukan, lama-kelamaan Anda bukan hanya kehilangan waktu istirahat, tetapi juga kehilangan kendali atas pekerjaan Anda sendiri. Fenomena ini sering disebut sebagai Yes Man, yaitu seseorang yang hampir selalu menerima setiap permintaan tanpa mempertimbangkan kapasitas, prioritas, maupun dampaknya terhadap dirinya sendiri. Sekilas terlihat positif. Namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru bisa menjadi jebakan yang menghambat performa dan perkembangan karier.

Mengapa Menjadi Yes Man Bisa Berbahaya?

Banyak orang berpikir bahwa berkata "tidak" merupakan sikap yang tidak profesional. Terlebih dalam budaya kerja yang masih menjunjung tinggi rasa sungkan dan hierarki. Akibatnya, banyak karyawan merasa tidak enak hati ketika harus menolak permintaan atasan maupun rekan kerja. Padahal, tidak semua pekerjaan harus selalu diterima. Sering kali seseorang mengatakan "iya" bukan karena memiliki kapasitas, tetapi karena takut dianggap tidak loyal, tidak kooperatif, atau tidak mampu bekerja sama dalam tim. Di sisi lain, ada juga kebutuhan akan validasi. Kalimat seperti "Saya percaya tugas ini ke Anda karena hanya Anda yang bisa," memang terdengar seperti pujian. Namun tanpa disadari, kalimat tersebut juga dapat membuat seseorang terus menerima pekerjaan tambahan tanpa pernah mengevaluasi apakah beban kerjanya masih masuk akal atau tidak. Sayangnya, menjadi orang yang selalu berkata "iya" bukan berarti kualitas kerja akan semakin baik. Justru sebaliknya.

1. Fokus kerja menjadi terpecah

Semakin banyak pekerjaan yang diterima, semakin sedikit perhatian yang bisa diberikan pada setiap tugas. Alih-alih menghasilkan pekerjaan yang benar-benar berkualitas, seseorang akhirnya hanya berusaha menyelesaikan semuanya secara bersamaan. Hasilnya, pekerjaan utama kehilangan fokus dan kualitas kerja pun ikut menurun. Hal ini sejalan dengan konsep yang dijelaskan oleh Cal Newport dalam bukunya Deep Work, bahwa pekerjaan berkualitas tinggi membutuhkan fokus yang mendalam. Ketika perhatian terus-menerus terbagi ke banyak tugas, kemampuan menghasilkan pekerjaan terbaik pun ikut menurun.

2. Risiko burnout semakin besar

Menjadi Yes Man juga membuat seseorang lebih rentan mengalami kelelahan fisik maupun emosional. Banyak orang menganggap burnout hanya terjadi karena pekerjaan yang terlalu sulit. Padahal, salah satu penyebab terbesar justru berasal dari beban kerja yang terus bertambah tanpa adanya batasan yang jelas. Bahkan World Health Organization (WHO) telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Burnout bukan sekadar merasa lelah. Kondisi ini dapat ditandai dengan kehabisan energi, munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan, hingga menurunnya efektivitas kerja. Ironisnya, orang yang paling sering mengalami burnout justru sering kali adalah mereka yang paling sulit mengatakan "tidak".

3. Bantuan Anda dianggap sebagai kewajaran

Pada awalnya, orang lain mungkin mengapresiasi kesediaan Anda membantu. Namun jika Anda selalu menerima setiap permintaan, lama-kelamaan bantuan tersebut berubah menjadi ekspektasi. Orang lain mulai menganggap Anda memang selalu tersedia. Akibatnya, setiap ada pekerjaan tambahan, nama Anda kembali menjadi pilihan pertama. Bukan karena Anda satu-satunya yang mampu, melainkan karena Anda hampir tidak pernah menolak. Padahal, profesional yang baik bukanlah mereka yang mengerjakan semua hal, melainkan mereka yang mampu menjaga kualitas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini juga dijelaskan dalam artikel Harvard Business Review, yang menekankan bahwa menetapkan batasan di tempat kerja bukanlah tanda kurangnya komitmen. Sebaliknya, batasan yang sehat membantu seseorang mempertahankan performa kerja dalam jangka panjang.

Belajar Berkata "Tidak" Secara Profesional

Lalu, apakah artinya kita harus menjadi orang yang selalu menolak? Tentu tidak. Yang perlu dilakukan adalah mulai menetapkan batasan yang sehat agar pekerjaan tetap berjalan dengan baik tanpa harus mengorbankan kesehatan maupun kualitas hidup. Salah satu cara paling sederhana adalah tidak langsung memberikan jawaban ketika menerima permintaan baru. Daripada spontan berkata "iya", cobalah memberikan jeda dengan mengatakan,
"Boleh saya cek jadwal saya terlebih dahulu? Nanti saya kabari kembali."
Kalimat sederhana ini memberi waktu bagi Anda untuk mengevaluasi kapasitas sebelum mengambil keputusan. Selain itu, jika permintaan datang dari atasan ketika pekerjaan utama sudah penuh, ajak atasan menentukan prioritas bersama. Misalnya,
"Saya bisa mengerjakan tugas ini. Namun, berarti penyelesaian proyek yang sedang berjalan perlu digeser. Menurut Bapak/Ibu, mana yang perlu diprioritaskan lebih dahulu?"
Dengan cara ini, Anda tidak sedang menolak pekerjaan, tetapi membantu perusahaan mengambil keputusan berdasarkan prioritas. Terakhir, biasakan menyampaikan alasan berdasarkan fakta, bukan emosi. Daripada mengatakan, "Saya sudah capek," akan jauh lebih profesional jika Anda menjelaskan kondisi pekerjaan yang sedang berlangsung dan risiko apabila mengambil tugas tambahan. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa Anda tetap ingin memberikan hasil terbaik, bukan menghindari tanggung jawab. Pada akhirnya, menjadi profesional bukan berarti harus selalu berkata "iya". Justru profesional yang matang memahami bahwa waktu, energi, dan fokus merupakan sumber daya yang terbatas. Ketika semuanya digunakan tanpa batas, bukan hanya kualitas kerja yang menurun, tetapi juga kesehatan dan keberlanjutan karier ikut dipertaruhkan. Karena itu, jangan merasa bersalah ketika sesekali mengatakan "tidak". Selama dilakukan dengan alasan yang jelas dan komunikasi yang baik, berkata "tidak" bukanlah bentuk penolakan terhadap orang lain, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap pekerjaan yang memang menjadi prioritas Anda. Sebab pada akhirnya, Anda dibayar bukan untuk menyanggupi setiap permintaan, tetapi untuk memberikan kontribusi terbaik melalui pekerjaan yang benar-benar menjadi tanggung jawab Anda.

Adelia Arinatasyah


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Rahasia Karyawan Betah Ternyata Bukan Hanya Soal Gaji

“Kenapa karyawan resign padahal gaji besar?” “Apa yang bikin karyawan betah bertahun-tahun di satu tempat?” Pernahkah Anda mengetik kalimat tersebut di google? Jika Anda mencari jawaban itu hari ini, kemungkinan besar Anda sedang berada di salah satu dari dua persimpangan: Anda seorang pemimpin yang pusing karena tim Anda keluar masuk silih berganti, atau… Anda sendiri

Read More

Bagaimana Membangun Continuous Improvement Berkelanjutan?

Halo business owner, HC practitioner, dan profesional leader. Kembali lagi dengan saya, Wisnu Ardhi, salah satu Human Capital Coach di Sinergia Consultant. Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengapa perusahaan bisa stuck meski tetap beroperasi, dan dua solusi awal yang bisa mulai diterapkan. Sekarang kita lanjut ke dua solusi berikutnya yang tidak kalah penting. 3.

Read More