December 27, 2025 |  Minutes

Rewarding Akhir Tahun untuk Karyawan: Perlu Nggak, Sih?

0  comments

Setiap akhir tahun, selalu ada satu fase yang agak… sunyi tapi ramai. Sunyi karena target sudah ditutup. Ramai karena kepala mulai penuh pertanyaan. Salah satu yang hampir pasti muncul adalah soal rewarding akhir tahun. Biasanya dimulainya sederhana.

“Kalau soal bonus, gimana ya?”
“Perlu nggak sih kita bikin acara?”
“Atau cukup ucapan aja?”

Pertanyaan-pertanyaan ini jarang ditanyakan dengan nada ringan. Karena di baliknya, ada banyak hal yang dipikirkan. Ada kondisi bisnis, ada kerja keras tim, ada rasa ingin menghargai, tapi juga takut salah langkah. Dan jujur saja, rewarding akhir tahun memang jarang sesederhana kelihatannya.

Ketika Niat Baik Bertemu Banyak Pertimbangan

Saya sering ketemu leader atau HR yang sebenarnya niatnya tulus, mereka ingin menutup tahun dengan baik, ingin tim merasa diapresiasi, ingin orang-orangnya pulang liburan dengan perasaan yang lebih hangat. Tapi lalu realitas datang.

Ada tahun di mana perusahaan harus ekstra hati-hati secara finansial, ada tim yang performanya timpang, ada ekspektasi yang tidak selalu bisa dipenuhi. Akhirnya rewarding berubah dari momen perayaan menjadi diskusi panjang yang melelahkan. Diberi takut dianggap kurang, tidak diberi takut dianggap tidak peduli. Di sinilah rewarding sering kehilangan maknanya. Bukan karena niatnya salah, tapi karena bebannya terlalu banyak.

“Sudah Dikasih, Tapi Kok Tetap Nggak Puas?”

Kalimat ini juga sering muncul, dan biasanya diucapkan dengan nada bingung, bukan marah.

“Padahal kita sudah kasih, tapi kok masih ada yang kecewa, ya?”

Kalau ditarik mundur, sering kali masalahnya bukan di apa yang diberikan, tapi di apa yang dirasakan. Rewarding yang datang tanpa cerita sering terasa hampa, seperti amplop tanpa konteks. Angkanya ada, tapi maknanya kosong. Bagi sebagian karyawan, itu terasa seperti:

“Ini kewajiban tahunan.” Bukan,
“Kami benar-benar melihat kamu.”

Di Akhir Tahun, Orang Lagi Banyak Bertanya ke Diri Sendiri

Ini yang sering luput disadari, akhir tahun itu momen refleksi, bahkan buat orang yang tidak pernah bilang. Di kepala mereka, pertanyaannya kurang lebih sama:

“Aku ngapain aja sih setahun ini?”

“Capek banget, sebenernya aku ada artinya nggak?”

“Kalau aku nggak disini, bakal kerasa nggak, ya?”

Rewarding, sekecil apa pun bentuknya, jadi simbol jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Makanya, orang bisa menerima bonus cukup besar, tapi tetap merasa tidak dihargai. Karena yang mereka cari bukan sekadar tambahan, tapi pengakuan. Aku selalu merasa bagian ini penting untuk dipahami.

Reward itu transaksi -> Ada hitungannya. Ada rumusnya. Ada anggarannya.

Apresiasi itu hubungan -> Ada emosi. Ada cerita. Ada rasa dilihat.

Masalah muncul ketika organisasi hanya fokus pada transaksi, tapi lupa membangun hubungan. Akhirnya rewarding jadi dingin. Formal. Cepat dilupakan. Padahal sering kali, yang diingat orang bertahun-tahun kemudian bukan nominalnya. Tapi momen ketika mereka merasa:

“Oh, ternyata peranku disini berarti.”

Jadi, Rewarding Akhir Tahun Itu Perlu atau Nggak?

Kalau jawabannya hitam-putih, mungkin gampang. Tapi dunia kerja jarang hitam-putih. Menurut saya, rewarding akhir tahun perlu,
tapi bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai pesan.

Pesan bahwa:

  • Usaha dihargai

  • Perjalanan disadari

  • Manusia di balik pekerjaan diakui

Dan pesan ini bisa disampaikan dengan banyak cara. Yang Sering Jadi Masalah Bukan Nominalnya, Tapi Caranya. Kadang perusahaan sudah melakukan yang terbaik, tapi cara menyampaikannya kurang tepat.

Misalnya:

  • Tidak ada penjelasan soal kondisi perusahaan

  • Tidak ada konteks kenapa kebijakannya seperti itu

  • Semuanya disamaratakan, padahal kontribusinya berbeda

Di sisi lain, ada juga perusahaan yang mungkin tidak bisa memberi banyak, tapi komunikasinya jujur dan hangat. Anehnya, justru ini yang sering lebih diterima. Karena orang bisa memahami keterbatasan. Yang sulit diterima adalah ketidakjelasan.

Tiga Hal Sederhana yang Membuat Rewarding Lebih Bermakna

Kalau rewarding memang ingin dilakukan, ada tiga hal yang sering membuatnya terasa “kena”, meskipun sederhana.

  1. Pertama, kejujuran.
    Jelaskan kondisi apa adanya dan jangan ditutup-tutupi. Orang dewasa bisa diajak bicara sebagai partner, bukan hanya penerima keputusan.
  2. Kedua, pengakuan yang spesifik.
    Bukan sekadar “terima kasih atas kerja kerasnya”. Tapi menyebutkan peran, usaha, atau sikap yang benar-benar terlihat.
  3. Ketiga, arah ke depan.
    Rewarding yang baik bukan hanya menutup tahun, tapi membuka harapan. Tentang kepercayaan, tentang peran, tentang peluang bertumbuh.

Rewarding Itu Tidak Harus Selalu Uang

Uang penting, tidak perlu dipungkiri. Tapi ia bukan satu-satunya bahasa penghargaan. Ada banyak bentuk rewarding yang sering terasa lebih personal. Jika memang uang adalah hal yang menurut Anda perlu Anda berikan, Anda juga tidak boleh melupakan hal ini:

  • Pesan apresiasi yang ditulis khusus, bukan template

  • Sesi refleksi kecil bersama tim

  • Pengakuan terbuka atas kontribusi yang jarang terlihat

  • Kejelasan peran dan kepercayaan di tahun berikutnya

  • Simbol sederhana yang punya cerita

Hal-hal seperti ini sering tidak mahal. Tapi dampaknya bisa panjang.

Menutup Tahun dengan Rasa Dihargai

Akhir tahun itu bukan cuma soal menutup laporan, tapi soal menutup perjalanan emosional orang-orang di dalamnya. Rewarding yang paling berdampak bukan yang membuat orang berkata,

“Lumayan dapet segini.”

Tapi yang membuat mereka berpikir,

“Aku berarti di sini.”

Dan perasaan itu, buat banyak orang, jauh lebih berharga daripada angka. Jadi kalau hari ini kamu sedang bertanya,

“Rewarding akhir tahun itu perlu nggak, ya?”

Mungkin pertanyaannya bisa digeser pelan-pelan menjadi:

“Apa yang ingin dirasakan tim kita saat mereka menutup tahun ini?”

Dari situ, bentuk rewarding biasanya akan menemukan jalannya sendiri. Semoga artikel ini membantu, let’s connect!

Adelia Putri Arinatasyah


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>