Halo, Business Owner, HC Practitioner, dan Professional Leader. Bertemu saya lagi, Amelia Hirawan. Kali ini saya akan bercerita tentang ruang coaching yang saya dampingi hari ini.
Saya semakin yakin bahwa organisasi itu dibangun, salah satunya dari meeting ke meeting. Bukan soal jenis meeting-nya. Tapi tentang bagaimana kita menciptakan dan menyediakan ruang untuk komunikasi. Ruang di mana semua yang terlibat bisa duduk dalam satu meja, menyatukan rasa dan pikir.
Situasi ini muncul dari salah satu klien saya yang sedang berada dalam masa transisi manajemen di perusahaannya. Mereka sedang mencoba membangun sistem baru, di tengah budaya lama yang sudah terasa sangat mengakar. Di saat yang sama, HR Manager yang diharapkan bisa membantu mengawal proses transisi ini justru memilih untuk resign.
Akhirnya, proses transisi belum benar-benar berjalan. Dan di sisi lain, perusahaan juga harus kembali mencari HR Manager yang baru. Dalam kebingungan itu, klien saya bertanya,
“Kalau seandainya Ibu ada di posisi HR Manager, dan harus mengawal transisi ini, hal apa yang akan Ibu lakukan?”
Setelah mengobservasi dan mengevaluasi dinamika yang selama ini terjadi, saya melihat bahwa langkah kecil yang justru paling mungkin dilakukan adalah: menciptakan ruang untuk bertemu.
Ruang bagi tim untuk duduk bersama.
Ruang untuk mulai berbicara.
Ruang untuk menyatukan kembali arah yang sempat terpecah.
Jude Antin, salah satu Head of Design di Airbnb, pernah menyampaikan bahwa leading through chaos is all about effective communication, speaking up, and saying the right things. Dan dari situ, proses berikutnya bisa berjalan: kita mulai mengobservasi dinamika yang muncul dari setiap pertemuan.
Karena dari meeting yang kita ciptakan, data akan terbentuk, observasi akan semakin kaya, dan kita punya pijakan yang lebih jelas untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Di sisi lain, di sesi yang berbeda, saya menemukan pola yang ternyata masih berkaitan. Masih tentang organisasi, masih tentang peran HR, tapi kali ini dari sudut yang sedikit berbeda.
“Saya sudah interview calon HR Manager, Bu. Dia punya pengalaman bikin KPI.”
“Oh ya? Punya pengalaman bikin KPI? Punya pengalaman mencapai KPI? Atau support management untuk mengawal KPI yang lain nggak?”
“Iya juga ya, saya nggak tanya.”
Kalau soal bikin KPI itu gampang, banyak yang bisa. Banyak konsultan juga menawarkan jasa pendampingan dalam membuat KPI. Tapi fokus untuk mengawal, menjaga energi, fokus dan semangat untuk mengupayakan KPI itu, tidak banyak yang tahan. Butuh leader yang need of endurance-nya tinggi, curiosity cari jalan baru, dan juga punya kecerdasan emosional. Jadi jangan sampai salah fokus waktu interview.
Teman-teman mau cari HR Manager yang bikin KPI atau yang bisa mengimplementasi dan mengawal KPI?

