March 30, 2026 |  Minutes

Bangun Budaya agar Bisnis Bertahan, Bukan Sekadar Bertumbuh!

0  comments

Halo business owner, HC practitioner, dan professional leader. Ketemu lagi dengan saya, Wisnu Ardi. Di sini saya ingin bercerita dari pengalaman saya saat berbincang dengan seorang business owner, saat mulai pendampingan. Di situ beliau menyatakan bahwa penjualan atau bahkan omset sedang bagus-bagusnya, sedang bertumbuh, bisnis sedang berkembang, namun itu hanya sekedar angka. Dan beliau mengatakan bahwa semakin bisnis ini mulai naik, dia merasa semakin berat.

Waktu itu saya bertanya,

Beratnya dari mana, Bu? Atau beratnya di bagian mana? Atau kenapa Ibu merasa hal itu mulai berat?

Beliau merasa bahwa semakin banyak tim, itu semakin sulit menyatukan mereka, baik dari sisi cara kerja mereka, bagaimana setiap divisi berjalan, bagaimana menyatukan tim, bagaimana tim bisa berjalan searah. Terkadang mereka punya cara berpikirnya sendiri-sendiri, bahkan setiap departemen itu punya cara kerja sendiri-sendiri atau bahkan punya budaya sendiri-sendiri yang mereka ciptakan di departemen itu.

Nah, percakapan itu sering saya temui, atau bahkan waktu memulai sesi pendampingan hal itu juga yang biasanya menjadi isu di beberapa business owner saat bisnis itu mulai berkembang. Karena di sini kita lihat bahwa ada masalah, tapi tidak terlihat. Ini bukan hanya sekedar strategi, ini bukan hanya sekadar produk, ini juga bukan sekadar angka yang kita bilang omset, tapi ini adalah hal yang sangat fundamental, yaitu budaya perusahaan, yang terkadang itu hal yang tidak terlihat dan memang bukan menjadi fokus utama saat bisnis itu awal-awal dibuat.

Nanti akan terasa saat bisnis itu mulai membesar, mulai bertumbuh. Memang banyak perusahaan itu akan sangat fokus pada pertumbuhan target, ekspansi pasar, mungkin menambah cabang baru, atau bagaimana mencari investor tapi melupakan atau melewatkan hal yang paling fundamental, yaitu budaya organisasi.

Tanda-Tanda Budaya Mulai Tidak Sejalan

Apa sih hubungannya bisnis dengan budaya itu sendiri? Bisa Bapak Ibu lihat bahwa apabila perusahaan Anda mengalami hal-hal seperti ini, misalkan sudah ada sistemnya tapi mereka masih menggunakan cara kerjanya masing-masing, mereka menggunakan cara lamanya masing-masing, ada beberapa tim yang tidak bisa sinkron satu sama lain, kemudian ada beberapa tim yang mempunyai behavior atau kebiasaan yang sendiri-sendiri.

Contohnya, kita ada value atau budaya care, tapi yang care terkait perusahaan entah itu mematikan listrik, mematikan keran air, atau bahkan buang sampah itu juga masih minim. Kita punya budaya care, tapi kita sulit untuk menerapkan itu. Kemudian kita mungkin punya value terkait service, tapi ada tim yang memberikan service mulai oke-oke-an, tidak sesuai standar, mau pakai caranya sendiri, ingin cari yang lebih gampang sendiri.

Untuk teman-teman lama atau tim lama, itu mungkin sudah terbiasa dengan Anda dan mereka terhubung dengan Anda. Tapi yang perlu dilihat adalah untuk tim yang baru masuk, kalau tidak kita bekali juga dengan value yang sudah tertanam di perusahaan, mereka akan membawa cara kerja mereka masing-masing. Dan pola itu hanya akan tertanam di orang-orang yang dulu mungkin kita bisa sentuh waktu kita bentuk bisnis.

Tapi kalau tim ini berkembang, akar itu makin dalam, dan kita harus sadar bahwa penanaman budaya itu harus semakin dalam lagi, atau bahkan semakin kompleks lagi, atau bahkan semakin sering lagi kita lakukan dengan cara apa pun.

Ada satu artikel yang menarik yang disampaikan oleh McKinsey, di situ menyebutkan bahwa banyak perusahaan yang mampu bertumbuh dengan cepat, tapi gagal bertahan lama karena mereka tidak membangun pondasi organisasi yang kuat sejak awal. Nah, nanti Anda bisa baca juga artikelnya lebih detail di link yang sudah dicantumkan.

Yang perlu dilihat lagi adalah, kalau tadi saya selalu menyampaikan bahwa budaya itu adalah fondasi organisasi, budaya itu juga bisa diartikan sebagai sistem yang tidak terlihat di dalam organisasi. Kenapa saya bilang tidak terlihat? Bapak Ibu bisa melihat di tiga kunci sukses pengelolaan SDM yang ada di Sinergia. Di situ disebutkan ada tiga pilar, yaitu mindset, sistem, dan leadership.

Mindset, Sistem, dan Leadership dalam Budaya

Mindset itu tidak kelihatan, dan biasanya value itu ada di area mindset, yaitu cara seseorang berpikir dan bagaimana cara menggerakkan seseorang. Sistem adalah hal-hal seperti KPI, job desc, SOP, yang memang terlihat. Kemudian leadership adalah bagaimana seseorang menggerakkan sistem itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa budaya perusahaan adalah cara orang-orang di dalam organisasi untuk berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak sehari-hari. Seperti yang saya sampaikan tadi, mindset adalah salah satu key yang harus kita tanamkan di dalam organisasi. Itu kenapa saya bilang bahwa budaya adalah sistem yang tidak terlihat, karena itu termasuk bagian dari mindset.

Dan budaya itu sendiri bisa menjadi pondasi utama bagi leader dalam menyelesaikan konflik, dalam memperlakukan tim apabila terjadi sebuah kesalahan, dan menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Jadi, leader tidak hanya membawa budaya yang mungkin dialami di perusahaan sebelumnya, tapi juga mengimplementasikan budaya perusahaan itu sendiri dalam sistem kerja sehari-hari. Jadi budaya itu benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ini juga yang disampaikan dalam Harvard Business Review, bahwa membangun budaya yang benar-benar bekerja itu bukan hanya sekedar tulisan atau hanya ada di dalam frame. Bukan hanya ditulis lalu orang harus mengikuti, tapi budaya itu harus benar-benar disampaikan ke tim, diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari, dalam proses kerja sehari-hari, bahkan kita perlu membangun alignment dengan tim, bukan hanya sekali, tapi bisa berkali-kali agar tim benar-benar memahami budaya tersebut.

Ada hal menarik lagi dari McKinsey melalui 7S Model, di mana dibagi menjadi dua elemen, yaitu hard element dan soft element. Hard element mencakup strategi, struktur, dan sistem, seperti rencana kompetitif, struktur organisasi, hingga teknologi pendukung seperti ERP atau sistem lainnya.

Sedangkan soft element adalah bagian yang sering terlewat, padahal ini yang membentuk DNA organisasi, seperti shared values, skill, style, dan kualitas tim. Shared values adalah yang paling penting, karena ini adalah budaya inti perusahaan. Itulah kenapa dalam proses coaching atau pendampingan, area budaya seringkali menjadi hal pertama yang direview atau ditekankan.

Dari sini bisa kita pahami bahwa membangun budaya bukan hanya soal menyusun nilai atau menuliskannya, tetapi bagaimana kita menggunakannya dalam keseharian, bagaimana membuat orang bergerak ke arah yang sama, dan itu menjadi kunci utama dalam membangun budaya di dalam organisasi.

Tiga Cara Membangun Budaya dalam Organisasi

Ada beberapa hal yang bisa Bapak Ibu lakukan

  1. Nilai itu bukan hanya sekedar tulisan, tetapi harus dihidupi. Misalnya ada perusahaan yang punya budaya sehat, maka perlu ada aktivitas yang menghidupi value tersebut, seperti senam pagi setiap hari Jumat selama 30 menit, atau program membawa makanan sehat. Itu adalah bentuk nyata dari penanaman value.
  2. Membuat role model. Idealnya leader, tapi tidak harus selalu leader. Bisa juga melalui agent of change, yaitu orang-orang yang membawa budaya tersebut dalam keseharian kerja dan menjadi contoh nyata bagi tim lainnya. Karena budaya itu perlu dilihat, bukan hanya didengar.
  3. Membangun sistem yang mendukung budaya. Ini biasanya menjadi peran HR, seperti membuat sistem pembelajaran rutin, sistem penilaian, atau bahkan reward yang mendukung budaya tersebut. Misalnya kalau ada value pembelajaran, maka dibuat proses belajar bersama secara rutin setiap minggu.

Kurang lebih itu bagaimana membangun budaya agar bisnis bertahan, bukan hanya sekedar bertumbuh. Semoga apa yang saya sharingkan ini bermanfaat buat Bapak Ibu semuanya. Karena pada akhirnya, bisnis itu bukan hanya sekadar omset, tapi bagaimana kita membangun orang-orang di dalam bisnis Anda, agar bisnis tersebut bisa tetap sustain, kuat dalam bertumbuh, dan bertahan dalam jangka panjang.

Sampai jumpa di pembelajaran selanjutnya. See you and let’s connect!

Wisnu Ardhi


Saya ibarat sponge yang selalu haus ilmu, terutama tentang human capital! Mengelola manusia di organisasi itu seperti menyusun puzzle, kadang ada yang hilang atau terbalik, tapi serunya adalah membantu mereka berkembang bersama tim dan organisasi. Sambil belajar, semuanya bisa berkembang dan bergerak maju. Seru, kan?


Tags


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>