Menjawab Fenomena Quiet Quitting di Era Now
Hai! Beberapa hari lalu, saya sempat scroll salah satu platform media sosial dan melihat sebuah postingan yang ramai dibicarakan. Isinya cuma dua kalimat sederhana, tapi kolom komentarnya penuh:
“Aku tetap kerja, tapi ya secukupnya aja.”
“Dulu aku semangat banget lembur, sekarang rasanya ngga worth it.”
Saya berhenti sejenak. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalam. Ada sesuatu di balik kata secukupnya. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa seseorang yang dulu semangat, bisa berubah jadi datar seperti itu? Apa yang hilang di tengah perjalanan antara “aku mau berkontribusi” dan “aku kerja asal selesai”?
Ternyata, fenomena ini punya nama quiet quitting. Istilah yang makin sering kita dengar beberapa tahun terakhir. Quiet quitting bukan berarti seseorang berhenti bekerja, tapi berhenti terlibat sepenuh hati.
Lebih Berbahaya dari Resign Beneran
Menurut Harvard Business Review, quiet quitting justru lebih berbahaya daripada resign sungguhan. Karena orangnya masih ada, tapi semangatnya hilang. Ia datang ke kantor, ikut rapat, menyelesaikan tugas tapi tanpa inisiatif, tanpa ide, tanpa keterlibatan emosional. Dan yang lebih rumit, fenomena ini sering tidak terlihat. Tim terlihat baik-baik saja, tapi dinamika mulai lesu. Ruang meeting yang dulu ramai ide, kini hanya diisi dengan “iya” dan “oke”. Pemimpin mungkin tidak sadar, sampai akhirnya hasil kerja mulai stagnan.
Masalahnya, ini bukan soal beban kerja semata. HBR menemukan bahwa akar quiet quitting sering berasal dari relationship with manager hubungan yang renggang, komunikasi yang dangkal, atau rasa tidak dihargai. Karena pada dasarnya, orang tidak meninggalkan perusahaan.
Mereka meninggalkan atasan yang tidak membuat mereka merasa berarti.
Quiet Quitting Bukan Tentang Malas, Tapi Tentang Makna
Banyak yang salah paham. Quiet quitting sering dikaitkan dengan generasi muda yang dianggap kurang loyal, mudah bosan, atau tidak tahan tekanan. Padahal, seperti yang ditulis Forbes, quiet quitting bukan bentuk kemalasan tapi bentuk resistensi halus terhadap budaya kerja yang tidak lagi relevan. Generasi sekarang ingin bekerja keras, tapi juga ingin tahu untuk apa. Mereka tidak menolak tanggung jawab, tapi menolak kehilangan diri di dalam pekerjaan. Mereka ingin bekerja dengan batas yang sehat, lingkungan yang mendukung, dan tujuan yang bermakna.
Bagi banyak karyawan, kata “cukup” bukan berarti menyerah, tapi cara bertahan. Cara melindungi diri dari ekspektasi yang terus naik tanpa kejelasan arah dan penghargaan yang sepadan.
Artikel Forbes AllBusiness menulis bahwa quiet quitting adalah gejala, bukan akar masalah. Ia seperti alarm yang memberi tahu: ada yang salah dengan keterhubungan di tempat kerja. Ketika karyawan berhenti antusias, itu bukan berarti mereka tidak peduli mungkin mereka sudah terlalu sering tidak didengarkan.
Sayangnya, banyak perusahaan merespons dengan cara yang salah. Mereka menambah kontrol, memperketat aturan, dan menuntut lebih banyak disiplin. Padahal yang dibutuhkan justru sebaliknya: connection, trust, dan clarity.
Karyawan tidak akan memberi “lebih” hanya karena disuruh. Mereka memberi lebih ketika merasa dipercaya, dilibatkan, dan diakui. Karena bagi manusia, rasa dimiliki jauh lebih kuat daripada rasa dituntut. McKinsey pernah menghitung biaya tersembunyi dari quiet quitting bukan hanya turunnya produktivitas, tapi hilangnya momentum inovasi. Ketika semangat mati, kreativitas ikut padam. Organisasi kehilangan ide-ide segar yang seharusnya lahir dari percakapan, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba hal baru.
Dan ini bukan hanya masalah angka. Di baliknya ada kehilangan rasa bangga, kehilangan energi tim, dan kehilangan makna dari bekerja bersama.
Kalau dibiarkan terlalu lama, perusahaan bisa jalan seperti mesin efisien, tapi tanpa jiwa.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sebagai business owner, HR practitioner, atau leader, mungkin ini saatnya berhenti bertanya “kenapa tim saya menurun semangatnya?” Dan mulai bertanya, “apa yang bisa saya lakukan untuk menyalakan lagi maknanya?”
Beberapa hal sederhana bisa jadi awal perubahan:
-
Bangun komunikasi dua arah.
Jadwalkan percakapan bukan untuk evaluasi, tapi untuk mendengar. Kadang, orang hanya butuh ruang aman untuk didengar tanpa dihakimi. -
Berikan ownership, bukan hanya target.
Libatkan mereka dalam proses menentukan arah. Orang lebih bersemangat ketika tahu suaranya berpengaruh. -
Apresiasi usaha, bukan cuma hasil.
Terkadang upaya yang gagal lebih berharga daripada hasil instan yang tidak berproses. -
Bangun kepercayaan sebagai budaya, bukan wacana.
Trust tidak dibangun dari rapat motivasi, tapi dari konsistensi perilaku sehari-hari.
Fenomena quiet quitting mungkin terlihat seperti tren baru, tapi sebenarnya ia adalah cermin lama dalam bingkai baru. Ia menunjukkan bagaimana cara kita memimpin, berkomunikasi, dan memberi makna di tempat kerja. Jika banyak orang mulai “cukup”, mungkin bukan karena mereka kehilangan semangat tapi karena organisasi kehilangan arah bersama.
Dan mungkin, tugas seorang pemimpin hari ini bukan lagi menuntut “lebih”, tapi menyalakan kembali why di balik setiap pekerjaan. Karena pada akhirnya, orang tidak datang bekerja hanya untuk gaji. Mereka datang untuk merasa berarti.
Kalau Anda merasa fenomena quiet quitting juga mulai terasa di tim Anda, mungkin ini saat yang tepat untuk kembali menyalakan makna di tempat kerja. Bagaimana cara terbaik memulainya di perusahaan Anda? Feel free untuk terkoneksi dengan kami di sini mari ngobrol, siapa tahu percakapan kecil bisa jadi awal perubahan besar. Sampai jumpa di ruang yang berbeda!


