November 1

JARANG DIBAHAS, 5 SYARAT UNTUK MENCEGAH KARYAWAN RESIGN

0  comments

By Naufal Fathanah

Halo HC Practitioners dan Business Owner dimanapun Anda berada. Bagaimana keadaan perusahaan Anda saat ini? Semoga tetap lancar dan bisa terus melaju menghadapi tahun 2022 yang kita semua harapkan sudah terlepas dari belenggu pandemi ini. Meski dengan harapan, sebagai Human Capital kita tetap harus bisa waspada, aware, dan siap beradaptasi menghadapi kejadian-kejadian tak terduga di masa yang akan datang. Mau tidak mau kita harus selalu sigap dan agile menghadapi ombak-ombak yang entah bisa mengguncang perusahaan kita kapan saja.

Seberapa kuat goncangan tersebut dapat menggoyahkan perusahaan sebenarnya bisa dilihat dari kuatnya pondasi perusahaan Anda. Selalu cek dan amati kembali pondasi-pondasi inti di perusahaan Anda. Jangan lupa juga untuk mengevaluasi dokumen-dokumen perusahaan Anda secara berkala, silakan cek HCA Checklist and Evaluation Tools yang kami racik khusus untuk keperluan evaluasi perusahaan. Semakin detail evaluasi Anda, maka semakin mudah menemukan lubang-lubang kecil yang berpotensi menyebabkan kebocoran yang luar biasa bagi perusahaan. Kalau sudah begini, siapa yang repot? Ya pasti seluruh divisi akan merasakan dampaknya. Maka dari itu, selalu cegah sedini mungkin.

Berbicara tentang guncangan, tentang “kebocoran”, dan betapa repotnya seluruh elemen perusahaan menghadapi itu semua, mungkin Anda berpikir kalau semua akan aman terkendali. Bagaimana tidak? Semua karyawan andalan Anda sudah siap untuk membantu Anda menambal itu semua. Anda berpikir untuk tidak terlalu ambil pusing mengenai hal-hal ini. Namun, apa yang akan terjadi apabila karyawan Anda memutuskan untuk “undur diri” di waktu yang sedang genting-gentingnya? Belum lagi posisi karyawan tersebut cukup vital di perusahaan. Dan buruknya lagi, ternyata tidak hanya satu karyawan saja yang ingin mundur, tapi ada 5 karyawan lagi dari tiap divisi yang berbeda menyatakan mundur untuk berkontribusi di perusahaan.

Apa penyebabnya? Apakah satu karyawan vital tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap 5 karyawan tersebut? Mungkin saja. Apakah 5 karyawan tersebut mundur karena merasa perusahaan sedang tidak dalam kondisi stabil? Bisa Jadi. Apakah ini akan berdampak pada kegiatan operasional perusahaan? Bisa Yes or No. Semua tergantung dari langkah yang HC Practitioner dan Business Owner ambil sebelum dan sesudah turnover tersebut terjadi.

Sebelum kita lanjut, mari kita refresh ulang pengertian kita mengenai turnover.

Employee turnover adalah suatu keadaan di mana terdapat pengurangan jumlah tenaga kerja/karyawan di perusahaan. Atau dalam artian yang lebih sederhana, employee turnover adalah keadaan di mana karyawan meninggalkan perusahaan dan tidak melanjutkan bekerja lagi. Hal ini dapat berupa karyawan yang pensiun, habis kontrak, pindah lokasi kerja, dan bahkan karyawan yang meninggal. Untuk karyawan yang secara sukarela dan memiliki keinginan untuk mengakhiri kontrak kerjanya lebih cepat (atau bahasa umumnya resign) secara khusus disebut sebagai voluntary turnover dengan Umumnya, HC Practitioners melakukan penghitungan dan mengkalkulasi presentasi dari employee turnover ini dalam jangka dan periode waktu tertentu (bulanan/tahunan), sehingga ditemukan nilai turnover rate. Nilai turnover rate ini digunakan oleh HC Practitioners untuk mengevaluasi dan memprediksi dampaknya terhadap produktivitas tim, kualitas rekrutmen, dan bahkan moral tim dalam perusahaan.

Banyak Masalah SDM dan Bingung Mana yang Harus Diprioritaskan?

Gunakan tool gratis yang kami sediakan ini dengan Klik Tombol di bawah ini, GRATIS

Mengapa isu turnover ini sangat penting untuk diperhatikan? Pasti kita sudah pernah mendengar cerita-cerita seperti karyawan baru yang langsung keluar setelah masa percobaan selama 3 bulan, atau karyawan yang menjadi bagian penting dalam tim mengajukan surat pengunduran diri secara tiba-tiba. Sekarang, coba kita bedah apa saja yang ikut “pergi” meninggalkan perusahaan saat ada turnover. 

  1. Waktu

    Coba sekarang Anda ulas lagi, berapa waktu yang HC Practitioner dan tim rekrutmen butuhkan untuk mendapatkan kandidat dengan kualifikasi yang sesuai. 1 bulan kah? 2 bulan? Atau mungkin lebih dari itu?. Ini semua belum termasuk waktu yang dibutuhkan untuk melakukan seleksi berkas, interview, dan sesi induksi (segera akses 70+ tools dan pembelajaran tentang rekrutmen dan asesmen di Premium Assessment Bundle untuk mempermudah kegiatan rekrutmen Anda)

  2. Modal

    Berapa modal yang Anda butuhkan untuk memasang lowongan di situs dan portal-portal kerja? Belum termasuk investasi Anda untuk memoles keterampilan dan kemampuannya, serta biaya training yang Anda keluarkan.

  3. Produktivitas

    Ini adalah hal utama yang paling terasa setelah perusahaan ditinggal pergi oleh karyawan pentingnya. Perusahaan akan kehilangan pengetahuan, kompetensi, dan kemampuan yang dimiliki karyawan tersebut. Sekarang tergantung Anda, mau rekrut karyawan baru dengan kemampuan yang serupa atau memoles karyawan internal Anda sehingga memiliki level kompetensi yang sama (cek juga FREE E-book 33 Kompetensi Penting di Era New Normal).

Anda sebagai HC Practitioners tidak perlu panik apabila menghadapi kejadian seperti yang saya ceritakan di awal. Karena masalah employee turnover ini sudah menjadi problematika yang dihadapi hampir semua HC Practitioner di beragam industri. Yang Anda perlukan adalah kepala yang dingin, dan strategi-strategi yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi lagi.

Apa saja itu? Mari Kita Simak!

1. Harus Peka dan Terbuka!

Jika Anda HC Practitioner atau Business Owner mulai mendapati tanda-tanda bahwa seorang karyawan memiliki gerak gerik untuk resign seperti produktivitas berkurang, mulai sering datang terlambat, beberapa kali menerima telepon di luar ruangan, dan meninggalkan pekerjaan pada jam-jam yang tidak terduga (bisa jadi untuk wawancara kerja) maka segera dekati dan berikan teguran halus kepadanya, sambil mencoba mencari tahu apa yang sedang dialaminya.Karena mungkin saja karyawan tersebut sedang berurusan dengan masalah pribadi.

Disinilah saatnya HC Practitioner untuk bisa peka terhadap karyawan Anda. Dengan melakukan diskusi ringan, karyawan Anda mungkin akan merasa lebih nyaman dan Anda pun akan tahu apa yang saat ini sedang menjadi isu dalam pekerjaannya.

“Mungkin mereka tidak benar-benar ingin resign; mereka hanya memiliki sedikit masalah dan membutuhkan solusi dari Anda para HC Practitioners.

2. Sudah Kontribusi, Jangan Lupa Kompensasi dan Apresiasi

Jika Anda khawatir karyawan penting Anda akan resign, maka mulailah menunjukkan padanya mengapa posisinya sangat penting di perusahaan. Anda mungkin akan kesulitan untuk mengurungkan keinginan seorang karyawan untuk resign, tetapi Anda dapat mencegahnya dengan melibatkan mereka dalam proyek-proyek tertentu. Ini akan membuat mereka merasa bahwa kontribusinya sangat dipandang penting oleh perusahaan. Tidak hanya itu, berikan juga apresiasi yang sesuai dengan kinerja mereka, bisa melalui peningkatan compensation and benefit, pemberian training dan bonus pembelajaran (pelajari selengkapnya di HCA Online Mentoring Program)

3. Be Supportive

Beberapa karyawan mungkin mendapatkan porsi kerja lebih banyak daripada karyawan lain di tim mereka sehingga mereka merasa bahwa HC Practitioners tidak peduli dengan waktu, energi, dan work-life balance mereka (Konsultasikan strategi Manpower Planning dan beban kerja di perusahaan Anda melalui Private Coaching Program). Buatlah mereka nyaman dalam bekerja, selalu peka, dan tunjukkanlah kepedulian pada karyawan Anda.

4. Pertimbangkan Tujuan dan Jenjang Karir

Selalu berikan ruang dan kesempatan bagi karyawan Anda untuk belajar. Berikanlah mereka tantangan-tantangan baru apabila Anda merasa bahwa mereka sudah memiliki kompetensi dan mampu untuk itu. Maka dari itu, segera rancang kurikulum pembelajaran dan metode pelatihan yang cepat (dapatkan TOOLS-nya DISINI),  Segera rancang jenjang karir di perusahaan Anda dengan mempelajari video pembelajaran kami di HCA Online Mentoring Program

“Jadikanlah perusahaan Anda tempat bagi karyawan untuk meningkatkan kemampuan, bukan sekedar tempat bekerja”

5. Budaya Supportive + Lingkungan Kerja Positif = Nyaman

Menjaga karyawan tetap terlibat dan puas memang selalu menjadi perhatian utama bagi profesional SDM dan manajer sumber daya. Tapi, jangan sampai luput dari perhatian Anda kalau hubungan dan relasi dari rekan kerja juga sangat berpengaruh dalam mempertahankan karyawan Anda. Siapa yang tidak ingin bekerja sama dengan tim yang nyaman dan saling memberikan dukungan satu sama lain?. Silakan ikuti sesi LIVE ONLINE TRAINING: MEMBANGUN KULTUR PERUSAHAAN YANG BAIK UNTUK EMPLOYEE RETENTION” yang akan diadakan tanggal 16 November, 2021 dengan DAFTAR DISINI. Untuk Anda yang terlewat, silakan cek rekamannya di HCA Online Mentoring Program.

Merawat dan mempertahankan karyawan untuk bisa nyaman bekerja sembari selalu dalam performa terbaik memang bukan perkara mudah. Dengan menerapkan 5 hal tersebut, saya yakin Anda sebagai HC Practitioners mampu membawa perusahaan Anda ke dalam proses yang lebih baik lagi. Untuk Anda yang masih penasaran dan ingin berdiskusi lebih jauh, silakan hubungi kami melalui https://sinergiaconsultant.com/kontakkami

Let’s Connect! 


Tags

Business Owner, Human Capital Practitioner


You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>